Selamat Datang

Selamat Datang di Blog ini bersama R. Slamet Widiantono ------**------ TUHAN MEMBERKATI -----* KASIH ITU MEMBERIKAN DIRI BAGI SESAMA -----* JANGAN LUPA BAHAGIA -----* TERUS BERPIKIR POSITIF -----* SALAM DOA -----* slammy

Tuesday, June 8, 2021

BELAJAR AGAMA KATOLIK 7

BAHASAN PEMBELAJARAN AGAMA KELAS 7 KATOLIK MENCAKUP AKU, MANUSIA DENGAN JATI DIRINYA DENGAN SESAMA DAN LINGKUNGAN SEKITAR SERTA PRIBADI YESUS KRISTUS YANG MENJADI PANUTAN DAN TELADAN HIDUP



SEMESTER GANJIL

BAB I      MANUSIA CITRA ALLAH

BAB II    DICIPTAKAN SEBAGAI LAKI ATAU PEREMPUAN

BAB III    PERAN KELUARGA, GEREJA, MASYARAKAT


SEMESTER GENAP

BAB IV    MENGEMBANGKAN DALAM PERGAULAN

BAB V    MENELADANI SIKAP KARAKTER YESUS

BAB VI    NILAI DASAR YANG DIPERJUANGKAN YESUS

Kerajaan Allah dan PewartaanNYA

 

Monday, June 7, 2021

BELAJAR AGAMA KATOLIK KELAS 9

MATERI BELAJAR AGAMA KATOLIK KELAS INI ADALAH 6 BAB DENGAN 6 KOPETENSI DAN 6 KD YAKNI SEBAGAI BERIKUT:

SEMESTER GANJIL



BAB I    MENANGGAPI KARYA KESELAMATAN

BAB II    BERIMAN HIDUP DITENGAH MASYARAKAT

BAB III    MENGHARGAI MARTABAT MANUSIA


SEMESTER GENAP

BAB IV    MENJAGA KEUTUHAN ALAM CIPTAAN

BAB V    MEMBANGUN PERSAUDARAAN DENGAN SEMUA ORANG

BAB VI    MEMBANGUN MASA DEPAN

BELAJAR AGAMA KATOLIK KELAS 8

POKOK BAHASAN YANG DIDALAMI SISWA KATOLIK KELAS 8 MENCAKUP 8 BAB 8 KOMPETENSI DAN 8 KD


SEMESTER GANJIL

Bab I         :    PRIBADI YESUS KRISTUS

Bab II        :    YESUS MEWARTAKAN KERAJAAN ALLAH

Bab III        :    PANGGILAN PERUTUSAN MURID YESUS

Bab IV        :    KONSEKUENSI PEWARTAAN YESUS


SEMESTER GENAP


Bab V           :    PERAN ROH KUDUS

Bab VI           :    GEREJA SEBAGAI PAGUYUBAN

Bab VII        :    GERAJA TANDA SARANA PENYELAMATAN

Bab VIII       :    SAKRAMEN SAKRAMEN GEREJA

Sunday, June 6, 2021

ABSEN PAT PELAJAR KATOLIK

 

7) Sabda Bahagia


  • Semua orang, baik anak-anak maupun dewasa, pasti menginginkan hidup yang bahagia. Kebahagiaan diartikan sebagai pemenuhan dari semua keinginan hati kita.
  • Jika kita perhatikan, pemenuhan kebahagiaan itu bergeser terus, manusia cenderung menginginkan sesuatu yang ‘lebih’: ingin lebih pandai, lebih sukses, dan lebih baik.
  • Walaupun semua orang ingin bahagia, umumnya orang tidak tahu secara persis kehidupan seperti apa yang dapat menghantar kita ke sana. Akibatnya tiap-tiap orang mengejar hal yang berbeda-beda untuk mencapai kebahagiaan itu. Ada sebagian orang yang mengatakan bahwa: saya bahagia kalau punya banyak uang, dapat makan yang enak, atau punya pasangan yang keren, atau kedudukan yang tinggi dan pendidikan yang tinggi, kesehatan yang prima, dan penampilan yang OK, dan sebagainya. Pada akhirnya, atas dasar pandangan yang berbeda itupulalah yang mengakibatkan banyak orang juga melakukan berbagai cara yang berbeda-beda untuk menggapai kebahagiaan itu.
  • Dalam Injil Matius 5:1-12, Yesus menawarkan kebahagiaan yang tidak hanya bersifat sementara. Ajaran Yesus itu kita kenal dengan istilah “Delapan Sabda Bahagia”.
  • Dalam ajaran-Nya, Yesus berkata: “Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah…” (Matius 5:3). Harap diingat Yesus tidak berkata “berbagahagialah kamu karena kamu miskin atau kalau kamu mau bahagia silahkan jadi orang miskin”. Yesus memuji bahagialah orang yang miskin dihadapan Allah, berarti orang tersebut menyadari ketakmampuannya, ketakberdayaannya dan karena itu menyerahkan diri secara total pada kekuatan kuasa Allah. Orang yang dipuji Yesus adalah orang yang tidak terikat dengan harta yang sementara dan tak diperbudak oleh harta yang sementara. 
Begitulah salah satu bunyi dari sabda bahagia.
  • Melalui sabda bahagia ini Yesus bermaksud menyatakan tiga hal, yaitu:
(a) Menyiapkan para murid-Nya untuk menghadapi dunia yang orientasi kehidupannya sangat berlainan dengan kehendak Allah,
(b) Sabda bahagia me ngandung nilai eskatologis (akhirat/ akhir zaman), sebagai syarat masuk surga dan
(c) Sabda bahagia merupakan hukum baru yang mengatur relasi manusia dengan Tuhan dan sesama yang didasarkan pada kasih.
  • Sabda bahagia mengandung dua aspek yang mengatur kehidupan manusia, yaitu:
(Pertama) Aspek Iman (Matius 5: 3-6) mengandung pemahaman bahwa yang berbahagia adalah orang yang sepenuhnya menyandarkan hidup kepada Allah.
 Mereka itu adalah:
(a) Orang miskin;
  • bukan mereka miskin karena tidak memiliki harta benda, melainkan karena tertindas oleh orang kaya dan kuat.
(b) Orang yang berduka cita;
  • mereka mengharapkan penghiburan yang datang dari Allah (Yes 61: 1-3)
(c) Orang yang lemah lembut;
  • orang yang dengan rendah hati menantikan pertolongan dari Tuhan,
(d) Orang yang lapar dan haus akan kebenaran;
  • mereka adalah orang-orang yang rindu dibenarkan oleh Allah (Mazmur 146: 7).
(Kedua) Aspek Sosial (Matius 5: 7-10); dari sudut sosial orang yang berbahagia menurut Yesus adalah:
(a) Orang yang murah hati;
  • artinya orang yang gemar berbuat kasih kepada sesamanya.
(b) Orang yang suci hatinya:
  • artinya orang yang sadarkan dirinya sebagai warga Kerajaan Allah dan siap melakukan kehendak-Nya.
(c) Orang yang membawa damai;
  • orang yang menciptakan suasana damai dalam masyarakat,
(d) Orang yang dianiaya karena kebenaran;
  • artinya orang yang berjuang demi tegaknya kebenaran.
Penjelasan dari isi Sabda Bahagia
1) Miskin di hadapan Allah (ay. 3):
  • maksudnya bahwa mereka adalah orang yang memiliki sikap percaya secara mutlak dan berserah kepada Allah, dan bukan mengandalkan kekuatan hidup atas kekayaan, kekuasaan, prestise, dan sebagainya.
2) Berduka cita (ay. 4):
  • maksudnya di sini adalah orang yang dalam penderitaannya tetap sabar, tetap setia kepada Allah dan tidak mudah putus asa.
3) Lemah lembut (ay. 5):
  • maksud dari orang yang lemah lembut adalah orang yang dengan rendah hati, yang tidak mengumpat dan mengancam orang lain, tidak bereaksi keras bila dihina dan dilukai perasaannya.
4) Lapar dan haus akan kebenaran (ay. 6):
  • maksudnya adalah orang yang lebih mengutamakan kebutuhan rohani demi terwujudnya Kerajaan Allah.
5) Murah hati (ay. 7):
  • maksudnya bahwa orang yang murah hati adalah orang yang mau mengampuni, sebagaimana Allah juga murah hati dan senantiasa mau mengampuni.
6) Suci hati (ay. 8):
  • maksudnya bahwa orang yang suci hatinya adalah orang yang dalam seluruh hidupnya mencintai dan mengabdi dan menyerahkan diri seutuhnya kepada Allah tanpa syarat.
7) Membawa damai (ay. 9):
  • maksudnya bahwa orang yang membawa damai adalah orang yang bekerja untuk meningkatkan atau menciptakan kesatuan, kerukunan dan cinta kasih persaudaraan sejati antarmanusia.
8) Dianiaya oleh sebab kebenaran (ay. 11):
  • maksudnya bahwa orang Kristen diajak untuk memperjuangkan kebenaran, sekalipun mereka mendapat berbagai pengaiayaan, selalu setia kepada Kristus sekalipun mereka mendapat berbagai celaan dan pengaiayaan, sebagai bukti bahwa mereka mencintai-Nya.

Kasih tidak membedakan

Beberapa Catatan Penting
  1. Manusia, apapun ras, suku, agama, jenis kelaminnya memiliki martabat yang sama. Sebagai mahluk yang memiliki martabat yang sama, sepatutnya manusia hidup secara rukun tanpa membedakan antara satu dengan yang lain.
  2. Namun demikian, dalam praktik kehidupan di tengah masyarakat, masih banyak dijumpai kehidupan masyarakat yang tersekat-sekat atau terkotak-kotak. Sebagai contoh, ketika seseorang mau membantu orang lain, masih ada yang akan membatu dengan melihat dahulu siapa yang akan dibantu. Mereka lebih senang membantu kepada yang satu suku, atau seagama, ataupun yang masih dikenal. Belum lagi tindakan diskriminatif, membedakan secara tidak adil berdasarkan perbedaan suku, ras, agama, jenis kelamin sepertinya menjadi berita yang tidak habisnya untuk dikonsumsi oleh masyarakat kita.
  3. Yesus sendiri hidup dalam suasana masyarakat Yahudi, di mana pada masa itu cinta yang terkotak-kotak masih berjalan dan dilaksanakan di tengah masyarakat Yahudi. Cinta diukur berdasarkan sekat-sekat misalnya; sedarah, seagama, segolongan, sepaham, status sosial yang tinggi, tidak mengritik pandangannya, dan sebagainya. Maka, orang yang berbeda atau tidak memenuhi kriteria-kriteria tersebut dibenci dan disingkirkan.
  4. Namun demikian, Yesus tidak ikut arus. Yesus memiliki prinsip untuk mengasihi semua orang tanpa batas atau tanpa membedakan satu dengan yang lain. Sebagai salah satu contoh, Yesus tidak ikut arus untuk menjauhi dan memusuhi Zakeus si pemungut cukai. Yesus bukan hanya tidak menjauhi Zakheus, tetapi bahkan Yesus makan bersama dengan Zakheus di rumahnya sehingga akhirnya Zakheus bertobat.
  5. Selain itu, Yesus mau menyembuhkan orang sakit, bukan menjauhi dan mengutuknya sebagai orang yang dikutuk Allah. Yesus mengampuni orang berdosa dan perempuan yang berzinah sehingga mereka pun bertobat. Yesus menyelamatkan semua orang dengan mencintai mereka tanpa pandang bulu.
  6. Sifat manusiawi, egoisme, mau menang sendiri, tidak mau direpotkan serta mau enaknya sendiri yang dimiliki seseorang masih cenderung lebih diutamakan, sehingga praktik hidup yang pilih-pilih dalam pergaulan juga masih sering terjadi. Seperti halnya yang dilakukan oleh seorang imam dan seorang Lewi dalam perumpamaan tentang Orang Samaria yang Baik Hati yang disampaikan oleh Yesus.
  7. Dalam perumpamaan itu, dikisahkan bahwa ada orang yang dirampok dan dipukuli hingga hampir mati dalam perjalanannya. Beberapa waktu kemudian, lewatlah seorang imam di jalan itu, tetapi tidak menolong korban perampokan itu. Kemudian lewat pula seorang Lewi, dan ia juga tidak menolong. Akhirnya lewatlah seorang Samaria, yang waktu itu tidak memiliki hubungan yang baik dengan orang Israel (Orang Samaria dianggap rendah karena sudah bercampur dengan suku bangsa lain), yang menolong korban itu tanpa mempedulikan latar belakang orang yang ditolong. Orang Samaria itu menunjukkan cinta yang tidak membedakan.
  8. Yesus mengajarkan pada kita bahwa pada hakikatnya cinta (kasih) itu sendiri selalu terarah pada orang lain. Kalau kita mengasihi orang lain, sesungguhnya kita harus berusaha bagaimana orang yang kita kasihi itu bahagia. Tidak pandang bulu siapa orang itu, apa agamanya, keadaan ekonominya. Yang penting kasih yang kita berikan hendaknya terarah kepada semua orang dan menjadikan orang tersebut bahagia.
  9. Contoh cinta tanpa pengkotakan atau kasih yang tanpa membedakan yang dapat dilakukan remaja. Misalnya: berteman dengan semua orang dan tidak hanya berteman dengan teman tertentu saja, mau mendekati atau berteman dengan orang yang oleh teman lain dijauhi, mau terlibat kegiatan bersama teman tanpa pilih-pilih, membantu teman tidak hanya pada teman dekat saja melainkan kepada semua teman yang memerlukan bantuan