Selamat Datang

Selamat Datang di Blog ini bersama R. Slamet Widiantono ------**------ TUHAN MEMBERKATI -----* KASIH ITU MEMBERIKAN DIRI BAGI SESAMA -----* JANGAN LUPA BAHAGIA -----* TERUS BERPIKIR POSITIF -----* SALAM DOA -----* slammy
Showing posts with label SUARA HATI. Show all posts
Showing posts with label SUARA HATI. Show all posts

Friday, August 30, 2019

SUARA HATI

Suara hati adalah kesadaran moral dalam situasi konkrit atau hidup sehari-hari. 
Kesadaran moral maksudnya kemampuan untuk membedakan mana yang baik dan mana yang buruk.
Suara Hati juga disebut sebagai corong Allah, dan tempat seseorang berdiam diri bersama Allah 
(Gaudium Et Spes art. 16). 
Itu sebabnya suara hati sering disebut : Nur-ani / sanubari = cahaya paling dalam.

Sifat-sifat suara hati :
  1. Objektif dan jujur : suara hati selalu jujur. Jika kita merasa sakit dan sedih suara hati membuat suasana hati kita sakit dan sedih. Jika merasa manis, suara hati memberitahukan bahwa itu manis. Suara hati melihat apa adanya sesuatu (objek) maka disebut objektif.
  2. Normative : suara hati merupakan cerminan dari norma-norma yang ada di masyarakat sekitar. Suara hati benar bila mengikuti norma dan salah bila melanggar norma. Misalnya, suara hati hati kita akan melarang kita untuk kencing di pinggir jalan sebab menurut pandangan masyarakat itu tidak sopan, dan suara hati akan malu bila kita melakukannya. Agama punya aturan untuk menghormati orang tua, dan suara hati kita selalu menyuruh kita untuk melakukan hal tersebut.
  3. Tulus dan tanpa pamrih : suara hati pada dasarnya tidak harapkan imbalan dari perbuatan kita.
Proses terbentuknya Suara Hati.
Suara hati adalah alat komunikasi dari Allah kepada tiap pribadi manusia. Melalui suara hatinya Allah membimbing tiap pribadi untuk hanya melakukan perbuat baik dan benar dan terbaik / terbenar. Maka suara hati adalah pedoman atau norma untuk menilai setiap tindakan manusia.
Awalnya orang tua, masyarakat, teman, sekolah, Negara, agama, dan pengalaman hidup memasukan banyak program ke dalam benak kita. Mereka menginstal hal-hal baik dan positif, lalu menurut akal budi dan pengalaman kita sendiri program-program ternyata baik, maka diterima dan disimpan dan lalu membentuk SUARA hati. 
Maka selanjutnya ketika kita melakukan hal yang sesuai dengan data yang telah tersimpan itu, maka suara hati akan menerima. Namun jika sebaliknya, suara hati akan menolak, membuat kita merasa tidak nyaman. Misalnya, seorang anak yang selalu diajari untuk berdoa dan kegereja tiap Minggu, akan merasa tidak nyaman dan ragu bila ada teman yang mengajak ke tempat lain pada hari Minggu.

Fungsi dan Cara Kerja Suara Hati :
  • Indeks - Petunjuk / Guru : memberi petunjuk atau pengetahuan keputusan-keputusan yang akan dipilih dan resiko-resiko yang bakal terjadi. Guru ini memberikan pengetahuan tentang fakta yang sedang dihadapi.
  • Fudex - Hakim - memutuskan : Setelah data yang butuhkan lengkap, atau masih ambigu, Hakim lalu memutuskan salah satu dari pilihan-pilihan yang ada.
  • Vindex - Juri - Penghukum : Setelah diputuskan, suara hati menilai keputusan tersebut. Jika keputusan itu sesuai / benar sesuai dengan norma yang telah terinstal maka dia akan memberikan rasa bangga, gembira, damai atau sukacita. Jika sebaliknya, suara hati membuat kita tidak nyaman, takut, menyesal atau bersedih.
Suara Hati Suara Tuhan?
Apakah suara hati suara Tuhan? Namun mengapa kita sering keliru memutuskan sesuatu, padahal Tuhan tidak pernah keliru. Dalam keadaan asali-nya suara hati adalah suara Tuhan, atau alat untuk Tuhan bersuara. Namun dalam pertumbuhan kita sebagai manusia, alat ini sering dikotori oleh pengaruh lain dan kita setuju pula untuk menyimpannya dalam hati.
Keputusan yang salah bisa membahayakan martabat kita sebagai manusia.

Hukum Allah dan Hukum dosa
Roma 7: 14 - 26

  • Hukum Allah : selalu menyuruh dan mengarahkan pribadi untuk melakukan hal-hal yang baik.
  • Hukum Dosa : hukum menawan anggota tubuh untuk melakukan kejahatan.
Penyebab Suara Hati bisa Keliru 
Gaudium et Spes artikel 16 : Karena ketidaktahuan yang tidak teratasi. Ini tidak mengurangi martabatnya sebagai manusia.
Mengambil keputusan tergesa-gesa, dalam keadaan emosi yang belum stabil. Keputusan dalam situasi ini dapat saja membahayakan martabat manusia.
Terbiasa menolak suara hati yang baik dan menganggap biasa pada kejahatan. Keputusan dalam situasi ini adalah keputusan yang merendahkan martabat manusia.
Maka dari tiga penyebab di atas kita bisa mengenal tingkatan kesalahan keputusan suara hati :
No. 1 : tidak tahu apa yang diputuskan, 

No. 2 : darurat, harus memutuskan sekarang, 
No.3 : Tahu dan tetap melakukan, bahkan terecana.

Membina Suara Hati

  1. Memperluas wawasan pengetahuan dan kebijaksanaan dengan cara belajar, mendengar pendapat orang tua yang berpengalaman, membaca / mendengar berita.
  2. Memiliki banyak waktu tenang, berdoa, merenung, retreat, atau membaca kitab suci.
  3. Setiap pada hal-hal yang baik dan positif walau kadang sulit dan menyakitkan. Segera menghentikan perbuatan-perbuatan yang tidak sesuai dengan norma umum. Lalu menginstal ulang suara hati / akal budi dengan perbuatan-perbuatan baik.
Manusia adalah makhluk otonom.
Kebebasan bisa berarti bebas dari berbagai pengaruh dari luar berupa ancaman, tekanan, rangsangan dan lain sebagaianya. Kebebasan juga bisa berarti bebas untuk bertindak berdasarkan dorongan dari dalam hatinya dan kesadarannya sebagai manusia.
Karena akal budi dan perasaannya, manusia otomatis memiliki KEBEBASAN. Karena kebebasannya ini tiap pribadi menjadi otonom – mandiri, menjadi panglima atas dirinya sendiri. Dia bebas menentukan arah hidupnya sendiri. Namun juga mesti bertanggung jawab atas hidupnya sendiri. Maka kebebasan harus selaras dengan hukum moral di dalam suara hatinya dan norma-norma umum masyarakat. Tidak ada kebebasan mutlak, itu memang takdirnya. Tiap pribadi hanya bisa lahir di suatu tempat, dari orang yang satu, dan hanya bisa berada di satu tempat.
Kebebasan baru benar-benar bebas ketika seseorang mengikuti aturan hukum moral dalam hatinya dan norma umum dalam masyarakat. 

Maka kata St. Paulus : “Jagalah supaya kebebasanmu ini jangan menjadi batu sandungan bagi mereka yang lemah.” 
(1 Korintus 8:1-13)
Batas dari kebebasan diri adalah hukum moral. Batasan kebebasan dalam masyarakat adalah kebebasan sesama atau norma masyarakat.

Seberapapun kebebasan tiap orang mestilah ingat untuk bertindak sebagai manusia yang mulia dan terhormat, manusia yang di dalamnya Roh Kudus tinggal.

Kebebasan sejati menurut Gaudium et Spest artikel 17 adalah ketika manusia bertindak secara mulia sebagai gambar Allah dalam dirinya.

Monday, July 29, 2019

MANUSIA MAKHLUK OTONOM: SUARA HATI

SUARA HATI


Perkembangan sosial yang begitu cepat banyak membawa perubahan dalam berbagai aspek kehidupan, demikian juga persoalan-persoalan yang ditimbulkannya. Persoalan-persoalan tersebut membutuhkan pemecahan yang tepat. Di samping itu banyak tata nilai yang mengalami perubahan, seperti ketaatan, sopan santun, kejujuran, keadilan, tanggung jawab, dan sebagainya sering menjadi kabur. Berhadapan dengan situasi itu kaum remaja perlu mendapatkan pendampingan, sehingga tidak salah dalam mengambil keputusan. Mereka harus belajar membuat keputusan dengan mendengarkan suara hati atau hati nuraninya. 

Suara hati secara luas dapat diartikan sebagai keinsafan akan adanya kewajiban. Hati nurani merupakan kesadaran moral yang timbul dan tumbuh dalam hati manusia, sedangkan hati nurani secara sempit dapat diartikan sebagai penerapan kesadaran moral dalam situasi konkret, yang menilai suatu tindakan manusia atas buruk baiknya. Hati nurani tampil sebagai hakim yang baik dan jujur, walaupun dapat keliru. 

Suara hati atau hati nurani merupakan daya atau kemampuan khusus untuk membedakan perbuatan baik atau perbuatan buruk, serta menilai baik-buruknya perbuatan itu berdasarkan akal budi. Conscience atau hati nurani merupakan hasil dialog pribadi kita yang terdalam dengan Allah ketika kita menghadapi dan menanggapi situasi hidup sehari-hari. 

Santo Paulus mengatakan kepada kita bahwa dalam diri kita ada dua hukum, yaitu hukum Allah dan hukum dosa. Kedua hukum itu saling bertentangan. Hukum Allah menuju kepada kebaikan, sedangkan hukum dosa menuju kepada kejahatan. Santo Paulus menyadari bahwa selalu ada pergulatan antara yang baik dan yang jahat dalam hati manusia (lihat Roma 7: 13–26). 
Sementara dalam suratnya kepada jemaat di Galatia 5: 17 Santo Paulus mengatakan bahwa kita harus memberikan diri dipimpin oleh Roh. Kita harus berusaha memenangkan hati nurani kita dan mengalahkan kecenderungan kita yang menyesatkan. Kita harus peka terhadap sapaan dan rahmat Allah. 

Selanjutnya, Gereja melalui Konsili Vatikan II, khususnya dalam Gaudium et Spes Art. 16, antara lain dikatakan, “Tidak jarang terjadi, bahwa hati nurani keliru karena ketidaktahuan yang tak teratasi. Karena hal itu, ia tidak kehilangan martabatnya. Hal itu sebenarnya tak perlu terjadi kalau manusia berikhtiar untuk mencari yang benar dan baik”. Itu artinya manusia tidak boleh tunduk dan mengalah pada situasi yang membelenggu suara hati. Dengan bantuan Roh Allah kita dimampukan untuk mengalahkan kekuatan dahsyat yang menguasai suara hati kita, yang oleh Santo Paulus dinamai kuasa/ keinginan daging. 

Mendalami Ajaran Gereja dan Kitab Suci Tentang Suara Hati (Rom 2: 14-16)

a. Ajaran Gereja

Gaudium et Spes, art. 16 

“Di lubuk hati nuraninya, manusia menemukan hukum, yang tidak diterimanya dari dirinya sendiri, melainkan harus ditaati. Suara hati itu selalu menyerukan kepadanya untuk mencintai dan melaksanakan apa yang baik, dan menghindari apa yang jahat. Bilamana perlu, suara itu menggemakan dalam lubuk hatinya: jalankan ini, elakkan itu. Sebab dalam hatinya, manusia menemukan hukum yang ditulis oleh Allah. Martabatnya ialah mematuhi hukum itu, dan menurut hukum itu pula ia akan diadili. 

Suara hati ialah inti manusia yang paling rahasia, sanggar suci; di situ ia seorang diri bersama Allah, yang pesan-Nya menggema dalam hatinya. Berkat hati nurani dikenallah secara ajaib hukum, yang dilaksanakan dalam cinta kasih terhadap Allah dan terhadap sesama. Atas kesetiaan terhadap hati nurani, umat Kristiani bergabung dengan sesama lainnya untuk mencari kebenaran, dan untuk dalam kebenaran itu memecahkan sekian banyak persoalan moral, yang timbul baik dalam hidup perorangan maupun dalam kehidupan kemasyarakatan.”

b. Kutipan Kitab Suci
Roma 2: 14 – 16 
14 Apabila bangsa-bangsa lain yang tidak memiliki hukum Taurat oleh dorongan diri sendiri melakukan apa yang dituntut hukum Taurat, maka, walaupun mereka tidak memiliki hukum Taurat, mereka menjadi hukum Taurat bagi diri mereka sendiri. 
15 Sebab dengan itu mereka menunjukkan, bahwa isi hukum Taurat ada tertulis di dalam hati mereka dan suara hati mereka turut bersaksi dan pikiran mereka saling menuduh atau saling membela. 
16 Hal itu akan nampak pada hari, bilamana Allah, sesuai dengan Injil yang kuberitakan, akan menghakimi segala sesuatu yang tersembunyi dalam hati manusia, oleh Kristus Yesus. 


Hati nurani sendiri dapat diartikan secara luas dan secara sempit

Arti luas: Dalam arti luas hati nurani berarti kesadaran moral yang tumbuh dan berkembang dalam hati manusia. Keinsyafan akan adanya kewajiban. Arti sempit: Hati nurani merupakan penerapan kesadaran moral di atas dalam situasi konkret seperti yang dialami Boy dalam kisah tadi. Suara hati yang menilai suatu tindakan manusia benar atau salah, baik atau buruk. Hati nurani tampil sebagai hakim yang baik dan jujur, walaupun dapat keliru. 
Suara hati adalah suara Allah, maka melawan suara hati berarti melawan Allah. Agar kita setia pada kehendak Allah kita perlu bersatu dengan Roh Kudus dan mengandalkan kekuatannya 


Kerja suara hati dapat ditinjau dari berbagai segi: 

Segi waktu 

Hati nurani dapat berperanan sebelum suatu tindakan dibuat. Biasanya, hati nurani akan menyuruh kalau perbuatan itu baik dan melarang kalau perbuatan itu buruk.

Hati nurani dapat berperan pada saat suatu tindakan dilakukan. Ia akan terus menyuruh jika perbuatan itu baik dan melarang jika perbuatan itu buruk atau jahat. 

Hati nurani dapat berperan sesudah suatu tindakan dibuat. Hati nurani akan “memuji” jika perbuatan itu baik dan hati nurani akan membuat kita gelisah atau menyesal jika perbuatan itu buruk atau jahat. 

Segi benar-tidaknya 

1) Hati nurani benar, jika kata hati kita cocok dengan norma objektif. 
2) Guru memberi kesempatan kepada peserta didik untuk menyebutkan contoh, misalnya: menolong orang yang sedang mengalami musibah. 
3) Hati nurani keliru, jika kata hati kita tidak cocok dengan norma objektif 

Segi pasti-tidaknya 

1) Hati nurani yang pasti, artinya, secara moral dapat dipastikan bahwa hati nurani tidak keliru. 
2) Hati nurani yang bimbang, artinya, masih ada keraguan.

Penyebab tumpulnya suara hati berikut ini: 
1) Orang yang bersangkutan tidak biasa menghiraukan hati nuraninya. 
2) Orang yang selalu bersifat ragu-ragu atau bingung. 
3) Pandangan masyarakat yang keliru. Misalnya: riba dianggap biasa! 
4) Pengaruh pendidikan dalam lingkungan keluarga atau lingkungan lainnya. 
5) Pengaruh propaganda, mass media dan arus massa. 

Cara kerja suara hati, antara lain: 

Sebelum bertindak, ia berfungsi sebagai petunjuk (indeks), yang mengingatkan pengetahuan kita bahwa ada yang baik dan ada yang buruk. Sesungguhnya kesadaran moral semacam ini sudah dimiliki setiap orang dewasa. 

Pada saat-saat menjelang bertindak, ia bertindak sebagai hakim (iudeks), yang menyuruh kita melakukan yang baik dan melarang/menghindari yang jahat. Selama perbuatan itu belum selesai, suara hati akan bekerja terus antara menyuruh melakukan yang baik dan melarang melakukan yang jahat. 

Sesudah tindakan selesai dilakukan, ia berfungsi memberikan vonis (vindeks), yang akan menyatakan apakah perbuatan kita itu tepat atau tidak tepat. Bila yang kita lakukan itu benar, ia akan memberikan pujian sehingga kita merasakan ketenangan, tetapi bila yang kita lakukan itu yang jahat dan salah maka ia akan memberikan hukuman, yang membuat kita merasa bersalah dan tidak tenang, merasa dikejar-kejar kesalahan, dan sebagainya. 

Lewat hati nuraninya yang bersih, setiap orang dipanggil untuk bekerjasama memecahkan persoalan-persoalan dalam masyarakat, sehingga persoalan-persoalan dalam masyarakat seharusnya dipecahkan pertama-tama melalui dialog yang dilandasi hati nurani, karena hati nurani adalah suara Allah. Jangan langsung didekati secara agama masing-masing atau melalui hukum. Contoh: ketika menangkap orang yang mencuri pisang hanya beberapa biji, menurut hukum wajib dikenai hukuman. Tetapi bisa jadi bila didekati secara nurani, akan muncul belas kasihan sehingga pencuri itu diampuni. Contoh lain: bila ada pasangan muda-mudi berbeda agama mau menikah, menurut hukum Perkawinan Negara dilarang, tetapi bila menuruti hati nurani mungkin orang akan berpikir mengapa cinta harus dibatasi dengan peraturan? 



Suara hati dapat dibina dengan cara: 

Mengikuti suara hati dalam segala hal 

Seseorang yang selalu berbuat sesuai dengan hati nuraninya, hati nurani akan semakin terang dan berwibawa.

Seseorang yang selalu mengikuti dorongan suara hati, keyakinannya akan menjadi sehat dan kuat. Dipercayai orang lain, karena memiliki hati yang murni dan mesra dengan Allah. “Berbahagialah orang yang murni hatinya, karena mereka akan memandang Allah.” (Matius 5: 8). 

Mencari keterangan pada sumber yang baik 

Dengan membaca: Kitab Suci, Dokumen-Dokumen Gereja, dan buku-buku lain yang bermutu. 

Dengan bertanya kepada orang yang punya pengetahuan/ pengalaman dan dapat dipercaya
Ikut dalam kegiatan rohani, misalnya rekoleksi, retret, dan sebagainya. 
Koreksi diri atau introspeksi 
Koreksi atas diri sangat penting untuk dapat selalu mengarahkan hidup kita. 
Menjaga kemurnian hati 
Menjaga kemurnian hati terwujud dengan melepaskan emosi dan nafsu, serta tanpa pamrih, yang nampak dalam tiga hal: 
a) Maksud yang lurus (recta intentio): ia konsisten dengan apa yang direncanakan, tanpa dibelokkan ke kiri atau ke kanan. 
b) Pengaturan emosi (ordinario affectum): ia tidak menentukan keputusan secara emosional. 
c) Pemurnian hati (purification cordis): tidak ada kepentingan pribadi atau maksud-maksud tertentu di balik keputusan yang diambil. 
Hal ini dapat dilatih dengan penelitian batin, seperti merefleksikan rangkaian kata dan tindakan sepanjang hari itu, berdoa sebelum melakukan aktivitas, dan lain-lain.