Selamat Datang
Showing posts with label YESUS. Show all posts
Showing posts with label YESUS. Show all posts
Wednesday, June 24, 2020
Monday, September 23, 2019
YESUS : PEMENUHAN JANJI ALLAH
Dalam hidup bersama, manusia mengenal istilah janji.
Ada berbagai bentuk janji.
- Ada yang muncul karena kemauan sendiri,
- ada janji yang muncul karena kemauan kedua belah pihak (kesepakatan),
- ada janji yang dibuat secara tertulis dan ada pula yang lisan.
Alasan mengapa orang membuat janji juga bermacam-macam.
Misalnya:
- karena rasa cinta atau belas kasih,
- karena rasa tanggung jawab,
- karena ingin memperbaiki situasi yang memprihatinkan menjadi situasi yang baik,
- karena ingin mewujudkan suatu cita-cita,
- karena ingin membahagiakan orang lain.
Janji yang telah diungkapkan atau diteguhkan membawa konsekuensi bagi orang yang berjanji atau bagi orang yang mengetahuinya.
Oleh karena itu janji harus ditepati dan dijalankan dengan setia. Pengingkaran terhadap janji akan mendatangkan kekecewaan, tetapi janji yang ditepati akan mendatangkan kebahagiaan dan rasa syukur, memperbesar kepercayaan, dan menumbuhkan ikatan persaudaraan yang lebih erat.
Allah juga pernah mengungkapkan janji-Nya kepada manusia.
Janji Allah itu muncul karena keprihatinan Allah terhadap situasi dosa yang melanda manusia (Kej 3: 1-15).
Hubungan manusia dengan sesama, lingkungan dan dengan Allah yang mulanya sangat harmonis di Taman Firdaus, menjadi rusak setelah manusia “memakan buah terlarang”.
Melihat situasi ini, Allah sungguh sedih dan prihatin. Namun Allah tidak ingin bila manusia terbelenggu oleh dosa.
Oleh karena itu, Ia mengungkapkan janji-Nya untuk menyelamat-kan manusia. Allah selalu setia terhadap janji-Nya, Ia meng-inginkan agar manusia benar-benar selamat.
Janji Allah itu terwujud/ digenapi dalam pribadi Putera-Nya, yaitu Yesus Kristus yang berkarya, wafat dan bangkit demi menebus dosa manusia.
Saturday, September 21, 2019
EKARISTI : BUKTI KEHADIRAN YESUS
Sebenarnya, setiap doktrin Gereja Katolik telah dapat ditemukan dalam tulisan para Bapa Gereja sejak abad-abad awal, seperti, Misa Kudus sebagai kurban syukur, kepemimpinan rasul Petrus dan para penerusnya, doa syafaat para orang kudus, devosi kepada Bunda Maria, kehadiran Yesus dalam Ekaristi. Mari kita melihat beberapa bukti ini:
- St. Ignatius dari Antiokhia (110), adalah murid dari rasul Yohanes. Ia menjadi uskup ketiga di Antiokhia. Sebelum wafatnya sebagai martir di Roma, ia menulis tujuh surat kepada gereja-gereja, berikut ini beberapa kutipannya:
- Dalam suratnya kepada jemaat di Roma, dia mengatakan, “…Di dalamku membara keinginan bukan untuk benda-benda materi. Aku tidak menyukai makanan dunia… Yang kuinginkan adalah roti dari Tuhan, yaitu Tubuh Kristus… dan minuman yang kuinginkan adalah Darah-Nya: sebuah makanan perjamuan abadi.”
- Dalam suratnya kepada jemaat di Symrna, ia menyebutkan bahwa mereka yang tidak percaya akan doktrin Kehadiran Yesus yang nyata dalam Ekaristi sebagai ‘heretik’/ sesat: “Perhatikanlah pada mereka yang mempunyai pandangan beragam tentang rahmat Tuhan yang datang pada kita, dan lihatlah betapa bertentangannya pandangan mereka dengan pandangan Tuhan …. Mereka pantang menghadiri perjamuan Ekaristi dan tidak berdoa, sebab mereka tidak mengakui bahwa Ekaristi adalah Tubuh dari Juru Selamat kita Yesus Kristus, Tubuh yang telah menderita demi dosa-dosa kita, dan yang telah dibangkitkan oleh Allah Bapa…”
- Dalam suratnya kepada jemaat di Filadelfia, ia mengatakan pentingnya merayakan Ekaristi dalam kesatuan dengan Uskup, “Karena itu, berhati-hatilah… untuk merayakan satu Ekaristi. Sebab hanya ada satu Tubuh Kristus, dan satu cawan darah-Nya yang membuat kita satu, satu altar, seperti halnya satu Uskup bersama dengan para presbiter [imam] dan diakon.”[4]
3) St. Irenaeus (140-202). Ia adalah uskup Lyons, dan ia belajar dari St. Polycarpus, yang adalah murid Rasul Yohanes. Dalam karyanya yang terkenal, Against Heresies, ia menghapuskan pandangan yang menentang ajaran para rasul. Tentang Ekaristi ia menulis, “Dia [Yesus] menyatakan bahwa piala itu, … adalah Darah-Nya yang darinya Ia menyebabkan darah kita mengalir; dan roti itu…, Ia tentukan sebagai Tubuh-Nya sendiri, yang darinya Ia menguatkan tubuh kita.”
4) St. Cyril dari Yerusalem (315-386), Uskup Yerusalem, pada tahun 350 ia mengajarkan, “Karena itu, jangan menganggap roti dan anggur hanya dari penampilan luarnya saja, sebab roti dan anggur itu, sesuai dengan yang dikatakan oleh Tuhan kita, adalah Tubuh dan Darah Kristus. Meskipun panca indera kita mengatakan hal yang berbeda; biarlah imanmu meneguhkan engkau. Jangan menilai hal ini dari perasaan, tetapi dengan keyakinan iman, jangan ragu bahwa engkau telah dianggap layak untuk menerima Tubuh dan Darah Kristus."
5) St. Augustinus (354-430), Uskup Hippo, mengajarkan, “Roti yang ada di altar yang dikonsekrasikan oleh Sabda Tuhan, adalah Tubuh Kristus. Dan cawan itu, atau tepatnya isi dari cawan itu, yang dikonsekrasikan dengan Sabda Tuhan, adalah Darah Kristus….Roti itu satu; kita walaupun banyak, tetapi satu Tubuh. Maka dari itu, engkau diajarkan untuk menghargai kesatuan. Bukankah roti dibuat tidak dari saru butir gandum, melainkan banyak butir? Namun demikian, sebelum menjadi roti butir-butir ini saling terpisah, tetapi setelah kemudian menjadi satu dalam air setelah digiling…[dan menjadi roti]”
Melalui pengajaran para Bapa Gereja ini, kita mengetahui bahwa sejak abad awal, Gereja percaya dan mengimani bahwa roti dan anggur setelah dikonsekrasikan oleh Sabda Tuhan menjadi Tubuh dan Darah Yesus.
Dan, maksudnya Ekaristi itu diberikan supaya kita belajar menjunjung tinggi kesatuan Tubuh Mistik Kristus, yang ditandai dengan kesatuan kita dengan dengan para pemimpin Gereja, yaitu uskup, imam dan diakon. Iman sedemikian sudah berakar sejak jemaat awal, dan ini dibuktikan, terutama oleh kesaksian St. Ignatius dari Antiokhia yang mendapat pengajaran langsung dari Rasul Yohanes.
Jangan lupa, Rasul Yohanes adalah yang paling jelas mengajarkan tentang Roti Hidup pada Injilnya (lihat Yoh 6). Jadi walaupun doktrin Transubtantion baru dimaklumkan pada abad 13 yaitu melalui Konsili Lateran ke 4 (1215), Konsili Lyons (1274) dan disempurnakan di Konsili Trente (1546), namun akarnya diperoleh dari pengajaran Bapa Gereja sejak abad awal.
Prinsipnya adalah: roti dan anggur, setelah dikonsekrasikan oleh Sabda Tuhan, berubah menjadi Tubuh dan Darah Kristus. Karena itu, walaupun rupa luarnya berupa roti dan anggur, namun hakekatnya sudah berubah menjadi Tubuh dan Darah Kristus. Oleh kesatuan dengan Tubuh yang satu ini, maka kita yang walaupun banyak menjadi satu.
Sunday, September 1, 2019
YESUS TOKOH IDOLA SAHABAT SEJATI
Yesus adalah Sahabat Sejati dan Idola Kaum Remaja
1. Apakah Yesus berarti bagi hidupku?
- Apa pun rumusannya, Yesus baru berarti bagiku jika Ia menjadi Yesusku, Yesus bagiku. Bukan Yesus hafalan dari pelajaran agama atau dari kotbah atau dari rumusan-rumusan doa, tetapi Yesus yang menyangkut pribadiku. Itulah Yesus yang berarti bagiku. Apa yang disampaikan dalam pelajaran agama, kotbah, ataupun rumusan-rumusan doa baru memiliki arti jika dihayati secara pribadi dalam kehidupan setiap hari.
2.Apakah Yesus dapat saya hayati sebagai sahabat yang sejati?
- Yesus dapat saya andalkan sebagai sahabat yang sejati, karena sikap-Nya terhadap para rasul sungguh-sungguh dihayati-Nya sebagai sahabat. “Aku tidak lagi menyebut kamu hamba, sebab hamba tidak tahu apa yang diperbuat oleh tuannya, tetapi “AKU MENYEBUT KAMU SAHABAT” (Yoh 15.15).
- Untuk memupuk persahabatan-Nya dengan para rasul, Yesus menuntut dari mereka kepercayaan. (Sebutkanlah ayat-ayat itu!).Sebaliknya, Ia sendiri sangat mempercayai rasul-rasul-Nya, walaupun sulit dimengerti. Misalnya: Yesus mempercayakan tugas-tugas penting kepada Petrus, padahal Petrus berulang kali tidak pantas dipercayai. (Perikope manakah itu?).
- Yesus sungguh mempercayai sahabat-sahabat-Nya. Kepercayaan itu pula yang sangat dibutuhkan kaum remaja. Yesus akan tetap mempercayai kita, walaupun mungkin kita telah mengecewakan-Nya berulang kali.
- Yesus sangat menghormatikawan-kawannya, walaupun mereka datang dari masyarakat kalangan bawah. Yesus menerima mereka seperti adanya. Yesus membuka seluruh rahasia diri-Nya dan tugas perutusan-Nya. “Aku menyebut kamu sahabat, karena Aku telah memberitahu pada kamu segala sesuatu yang telah Kudengar dari Bapa-Ku” (Yoh 15.15). Inilah sikap seorang sahabat yang sejati
- Yesus menuntut cinta dari sahabat-sahabat-Nya
- (Ayat-ayat manakah itu?)
Cinta yang penuh pengampunan
(Ayat-ayat mana yang menunjukkan hal itu) dan
cinta yang penuh pengorbanan,
bahkan sampai kepada korban nyawa
(Ayat manakah yang menunjukkan hal itu?)
3.Yesus adalah idola yang sejati bagi kaum remaja Yesus adalah tokoh yang dapat dijadikan panutan bagi kaum remaja.
Kepribadian-Nya, ajaran-Nya, dan tindakan-Nya dapat kita jadikan panutan dalam hidup kita!Ciri-ciri kepribadian Yesus antara lain adalah sebagai berikut:
a. Yesus dekat dengan sesama Yesus berasal dari desa Nazareth, dari keluarga yang sederhana.
- Ketika menjadi orang yang termasyur, Ia tidak lupa asal-Nya. Ia tidak tinggal di lingkungan tertutup, di kawasan elite yang aman.
- Ia hidup di tengah-tengah masyarakat, menjelajahi kota dan desa, daerah gunung, dan pantai.
- Ia ada di tengah-tengah suka duka hidup manusia.
- Dalam suasana gembira pesta nikah, Ia tidak sungkan untuk turut bergembira dan mengambil bagian di dalamnya (lih.Yoh 2: 2-12).
- Dalam suasana pedih karena menderita sakit, Ia turut merasa sakit dan menawarkan penyembuhan (lih.Mat 8: 14-17).
Pada saat sesama-Nya lapar,
Ia berusaha untuk mengenyangkan mereka
(lih.Mrk 6: 30-44).
Ia prihatin terhadap sesama-Nya yang terlantar, seperti domba tak bergembala.
Semakin terlibat dengan manusia, Ia semakin mengerti kesulitan dan kebutuhan mereka.
Sebab itu,
Ia mengawali warta-Nya bukan dengan instruksi dan ancaman, tetapi dengan warta tentang kasih dan pengampunan.
Manusia dan prospek masa depannya menjadi pusat perhatian Yesus.
Ia mendalami pengalaman-pengalamanNya sendiri dan pengalaman sesama-Nya, kemudian mengajak para pendengar-Nya untuk menemukan nilai-nilai Kerajaan Allah di dalamnya.
Pengajaran Yesus sungguh praktis dan manusiawi.
Berulang-ulang Ia berbicara tentang
kebersamaan dan kasih sayang.
Yesus berbicara dalam bahasa mudah dimengerti,
apalagi Ia sering memakai perumpamaan
yang dipetik dari pengalaman dan kehidupan sehari-hari.
Ia tidak pernah berbicara dalam rumusan-rumusan
yang muluk-muluk dan sukar dimengerti.
Cara berbicara dan isi pembicaraan-Nya
berkaitan erat dengan hidup masyarakat pada umumnya.
Singkatnya,
seluruh cara dan sikap hidup Yesus,
sampai dengan isi dan tutur kata-Nya
menunjukkan bahwa Ia sangat “dekat” dengan sesama-Nya, khususnya rakyat biasa yang sederhana.
b.Yesus sangat “terbuka” terhadap siapa saja yang datang kepada-Nya
Karena Yesus dekat dengan sesama-Nya, maka Ia juga sangat terbuka kepada siapa saja yang datang kepada-Nya.
- Ia bergaul dengan semua orang. Ia tidak membeda-bedakan orang yang yang dijumpai-Nya dan yang datang kepada-Nya.
- Ia akrab dengan para imam (lih.Yoh 7,42-52), para penguasa, bahkan penjajah (lih.Mrk 7,1-10) yang beritikad baik.
- Ia akrab pula dengan para pegawai pajak yang korup (lih.Lk 19,1-10). Ia menyapa (Jw: “nguwongke”) para wanita “nakal” (lih.Luk 7,36-50), para penderita penyakit yang berbahaya.
- Yesus juga bergaul dan menyapa para pendosa dan kaum wanita.
Ia berusaha untuk merangkul semua orang.
Yesus tidak mau terikat oleh peraturan yang diskriminasi!
4.Yesus berani membela kebenaran dan keadilan
secara konsekuen
Kehidupan rakyat jelata semasa Yesus sungguh parah.
Mereka ditindas dan dihimpit oleh para penguasa dan pemimpin-pemimpin agama. Yesus berani membela rakyat kecil yang menderita. Yesus tidak pernah bungkam terhadap praktek-praktek sosial yang tidak adil dalam bentuk apa pun.
Yesus tidak berdiam diri atau
bersikap kompromis terhadap
kaum penguasa yang menindas.
Yesus juga tidak segan-segan mengkritik
mereka yang berpakaian halus di istana
(lih.Mat 11: 8).
Ia mengecam raja-raja yang menindas rakyat.
Ia mengecam penguasa-penguasa yang menyebut diri “pelindung rakyat”
(lih.Luk 22,25).
Ia tidak takut menyebut raja Herodes sebagai serigala (lih.Luk 13,32).
Yesus berani mengatakan dengan terus terang
kepada ahli-ahli Taurat, orang-orang Farisi, dan kaum munafik, dan orang-orang yang munafik.
“Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi,
hai kaum orang-orang munafik,
sebab kamu sama seperti kuburan yang dilabur putih,
yang sebelah luarnya memang tampak bersih,
tetapi sebelah dalamnya penuh dengan tulang-belulang dan berbagai jenis kotoran.
Demikian jugalah kamu,
di sebelah luar kamu tampaknya benar di mata orang,
tetapi di sebelah dalam kamu penuh dengan kemunafikan dan kedurjanaan”
(Mat 23: 27-28)
Ia berani membela rakyat kecil dengan mengkritik dan menyerang setiap penindasan dan ketidakadilan walaupun penuh risiko bagi hidup-Nya.
Walaupun demikian, Yesus bukanlah seorang tokoh revolusioner yang mau mengubah keadaan sosial dan politik masa itu. Yesus melakukan itu semua dalam rangka mewartakan Kabar Gembira, “Kerajaan Allah”.
Kritik yang tajam terhadap para penguasa yang menindas rakyat tidak bernada politis dan perjuangan kelas.
Yesus hanya mau menegakkan nilai-nilai Kerajaan Allah, yakni keadilan, cinta kasih, dan perdamaian.
Para penguasa dan pemimpin-pemimpin agama harus menegakkan nilai-nilai itu. Mereka harus melayani rakyat kecil, bukan menindasnya!
5.Yesus adalah orang yang sungguh “beriman”
Yesus sangat terbuka terhadap siapa saja
yang dijumpai-Nya dan yang datang kepada-Nya.
Akibatnya,
Yesus dianggap melanggar
ketentuan adat kebiasaan masa itu.
Walaupun demikian,
Yesus tetap berani mengkritik dan menghadapi
para penguasa dan para pemimpin agama
yang bertindak tidak adil terhadap rakyat kecil.
Mengapa Yesus begitu berani? Apakah Dia punya backing?
Yesus memang punya backing, yakni Allah sendiri.
Yesus mempunyai gambaran tentang Allah yang unik,
yakni Allah yang dekat.
Allah yang dekat itu bukan hakim yang harus ditakuti, melainkan ibarat bapa yang baik,
yang merangkul anak-anaknya dengan penuh cinta.
Oleh karena itu,
Yesus mengajak para pengikut-Nya
untuk menyebut Allah “Abba”.
Abba adalah sebutan anak kecil kepada bapanya,
dalam bahasa kita dapat diterjemahkan
dengan “papa” atau “papi”.
Sebagai Bapa yang baik,
Yesus percaya bahwa Allah tidak pandang bulu,
tidak membedakan
si miskin dan si kaya,
si saleh dan si pendosa,
yang baik dan yang jahat,
Yahudi dan bukan Yahudi.
Semua dirangkul,
asal mereka terbuka terhadap cinta-Nya.
Yesus sungguh menghayati Allah yang dekat itu
dan yang memanggil-Nya
untuk melakukan kehendak-Nya
pada setiap situasi konkret.
Beriman kepada Allah
berarti menyadari kehadiran-Nya
di dalam kehidupan kita sehari-hari,
mendengarkan panggilan-Nya
dalam setiap situasi konkret
dan
berusaha menjawab panggilan-Nya sebaik-baiknya.
Itulah yang dibuat oleh Yesus.
Yesus mengutamakan panggilan dan kehendak Allah
dalam setiap situasi, apa pun risiko dan tantangannya.
Yesus menghayati Allah yang dekat
tidak semudah seperti yang kita bayangkan.
Yesus pernah juga merasakan Allah yang jauh
ketika menghadapi saat-saat genting
yang mengancam dan membahayakan hidup-Nya.
Di taman Zaitun itu,
Yesus pernah berdoa:
“Ya, Bapa, kalau boleh, jauhkanlah daripada-Ku penderitaan yang harus Aku alami ini,tetapi jangan menurut kemauan-Ku, melainkan menurut kemauan Bapa”
(bdk.Luk 22: 42).
Bahkan,
ketika Yesus disalib di Golgota
Ia merasa ditinggalkan Allah.
Yesus berkata,
“Ya Allah, Ya Allahku,
mengapa Engkau meninggalkan Aku?”
(bdk. Mat 27: 46).
Iman selalu merupakan tantangan.
Iman menjadi cemerlang justru dalam tantangan.
Sebagai seorang beriman,
Yesus dapat mengatasi semua tantangan.
Yesus sungguh-sunguh idola bagi kita,
kaum remaja,
terutama pada zaman yang penuh tantangan ini.
Wednesday, August 28, 2019
YESUS: MANUSIA DAN TUHAN
Dua Dimensi manusia
- Manusia memiliki dimensi kemanusiaan, misalnya:
- dilahirkan ibu,
- berjenis kelamin,
- bisa marah,
- kecewa,
- sedih,
- gembira,
- sakit,
- dapat mati
- Manusia juga memiliki dimensi keillahian, misalnya:
- bisa mengasihi,
- bisa mengampuni,
- Bisa berbelarasa.
Kalimat yang berbunyi “kesabaranku ada batasnyajuga” hendak menegaskan bahwa dimensi rohani dalam diri manusia tidak bisa memancar sepenuhnya karena dibatasi oleh kemanusiaannya.
Yesus sungguh manusia dan Yesus sungguh Allah.
Allah menjelma menjadi manusia karena Dia solider dengan kehidupan manusia
Dimensi Kemanusiaan Yesus
- Memiliki silsilah dalam keluarga, dengan demikian Yesus hidup dalam sejarah manusia sebagaimana manusia pada umumnya
- Yesus dilahirkan dari rahim Ibu Maria
- Nenek moyang Yesus adalah Abraham
- Yesus berjenis kelamin laki-laki (Luk 2:1-7)
- Yesus mencari nafkah dengan bekerja sebagai tukang kayu (Mrk 6:3)
- Yesus mengenal sukacita, kesedihan, lapar, haus,letih, tidur, marah, takut, tertawa dan menangis
- Yesus bergaul dan bertemu orang-orang lain
- Yesus mengalami kejadian seperti manusia lain: meninggal
- Mempunyai ayah ibu
- Ia dilahirkan dari rahim Maria. Mat 1: 1-17
- Ia lahir di Betlehem.
- Ia berjenis kelamin laki-laki. Luk 2:1-7
- Ia bekerja menjadi tukang kayu (Mark 6:3),
- bisa marah (Luk 19:45),
- merasa sedih (Mrk. 14: 34),
- merasa lapar (Mat 21:18),
- haus (Mat 25:35),
- Tertawa dan menangis Yoh 11:35
- Ketakutan (Mark 22:44)
- mengalami kematian
- Luk 23:44-49,
- Mark 15: 33-41,
- Mat 27:45-56,
- Yoh 19:28-30
Dimensi Keallahan Yesus
Berasal dari Allah, Yesus adalah Firman (Yoh 1:1.14)
- Juru Selamat, Kristus, Tuhan (Luk 2:8-20)
- Dinyatakan para gembala “kemuliaan bagi Allah …” (Luk 2:13-14)
- Mengatakan sendiri “Aku dan Bapa adalah satu” (Yoh 10:30), “siapa melihat Yesus melihat Bapa” (Yoh 14:9), Yesus di dalam Bapa dan Bapa di dalam Yesus (Yoh 14;11)
- Peristiwa penggandaan roti (Yoh 6:1-15),
- Yesus menyembuhkan orang lumpuh (Luk 5:27-32),
- Yesus membangkitkan anak muda di Nain (Luk 7:11-17),
- Yesus mengusir roh jahat (Luk 8:26-39),
- Yesus meredakan angin ribut (Luk 8:22-25),
- Yesus berjalan di atas air (Mat 14:22-33),
- Yesus bangkit dari alam maut (Mat 28:1-10),
- dan ketika Ia naik ke Surga (Luk 24:50-53)
Makna kemanusiaan dan keallahan Yesus
- Yesus sungguh-sungguh Allah dan sungguh-sungguh manusia berarti Allah menjelma menjadi manusia
- Allah yang mengambil kodrat manusia sama seperti kita kecuali dalam hal dosa, ingin menunjukkan pada kita bahwa Allah itu pengasih
- Dia mau turun ke bumi merasakan suka duka yang dialami manusia dan bergaul dengan manusia, Dia terbuka dan solider dengan kehidupan manusia
- Dia menyapa manusia secara pribadi dan akrab dengan manusia, dengan demikian pewartaan karya keselamatan dapat lebih mudah dipahami dan diterima oleh manusia
- Dengan memahami Yesus sungguh Allah dan sungguh manusia, kita diajak untuk meneladani cinta-Nya.
- Walau Ia Allah, Ia tidak meninggikan diri-Nya. Ia mau turun ke bumi untuk menyelamatkan manusia
Monday, July 15, 2019
Saturday, July 13, 2019
Subscribe to:
Posts (Atom)