Selamat Datang

Selamat Datang di Blog ini bersama R. Slamet Widiantono ------**------ TUHAN MEMBERKATI -----* KASIH ITU MEMBERIKAN DIRI BAGI SESAMA -----* JANGAN LUPA BAHAGIA -----* TERUS BERPIKIR POSITIF -----* SALAM DOA -----* slammy

Monday, May 31, 2021

VIII SAKRAMEN REKONSILIASI



Pemahaman tentang "dosa" dan "tobat"
Ada ungkapan yang menyatakan “Tiada gading yang tak retak”.
Ungkapan ini mengandung makna bahwa tiada seorang manusia yang sempurna. Berarti tidak ada seorangpun yang tidak pernah berbuat dosa.


Dosa adalah perbuatan melawan cinta kasih Tuhan dan sesama.


Suatu tindakan disebut dosa apabila tindakan tersebut dilakukan secara sadar, sengaja, dan dalam keadaan bebas, yang berakibat merugikan orang lain dan dirinya sendiri serta merusak hubungannya dengan Tuhan.


Akibat dari dosa adalah retaknya/rusaknya bahkan terputusnya hubungan harmonis antara manusia dengan Tuhan, sesama dan lingkungannya.


Bertobat artinya berbalik kembali kepada Allah. Kembali ke jalan menuju kepada Allah.


Gereja Katolik menyadari hal ini karena setiap orang mempunyai kelemahan dan keterbatasan, itulah sebabnya manusia kerap jatuh ke dalam dosa.




Dimensi Kerahiman Allah
Allah adalah Maha Rahim:
- Ia Maha pengampun, Ia tidak mau manusia hidup dalam kungkungan dosa.
- Dalam kebaikan-Nya, Ia selalu menanti dan mengusahakan agar manusia kembali kepadaNya, bahkan membebaskannya, tanpa memperhitungkan besarnya dosa manusia (lih. I Yoh 4: 16b).
- Allah selalu mengundang orang yang berdosa untuk kembali bersatu dengan-Nya.
- Ia mengundang orang berdosa untuk bertobat (bdk I Yoh 1: 9).




Pertobatan berdasarkan Kitab Suci
Baca Luk 15: 11-32!
Si Bungsu melakukan tindakan meninggalkan bapanya. Itulah dosa dari si Bungsu yaitu meninggalkan kebersamaannya dengan bapa, meminta warisan seolah mengharapkan orang tuanya cepat mati.
Dosa juga dapat diartikan sebagai tindakan meninggalkan kebersamaan dengan Allah dan umat-Nya, dan memilih hidup menurut kehendak diri sendiri dalam dunia yang tanpa rahmat Allah.
Berdasarkan kisah yang dialami oleh si bungsu, maka bertobat dapat diartikan sebagai tindakan/sikap yang berani untuk kembali kepada bapa, kembali pada pangkuan bapa, kembali ke jalan menuju kepada bapa.




Kuasa Pengampunan dalam GereJa Katolik
Kerahiman Allah terhadap orang yang berdosa digambarkan secara indah oleh Yesus dalam perumpamaan “Anak yang Hilang” (lih. Luk 15: 11-32) dan dinyatakan dalam kuasa-Nya sendiri untuk mengampuni dosa.
Kuasa itulah yang diwariskan Yesus kepada Gereja-Nya yaitu untuk memberikan pengampunan atas anggota Gereja yang bertobat (lih. Yoh 20: 19-23; bdk. Mat 18: 20).
Pada saat manusia dirundung dosa, maka Roh Kudus terus bekerja untuk mengembalikan manusia kepada Tuhan. Inilah yang dialami oleh si bungsu, yang pada akhirnya “menyadari
keadaannya, menyadari kedosaannya” (ayat 17).


Dalam Gereja Katolik, Peristiwa kerahiman Allah tersebut terjadi di dalam Sakramen Tobat, yang disebut juga dengan istilah Sakramen Rekonsiliasi.


Sakramen Tobat menjadi tanda dan sarana pemulihan hubungan yang retak atau rusak akibat perbuatan dosa, menjadi suatu hubungan yang damai dan harmonis antara Allah dan Manusia, manusia dan sesama, serta lingkungannya.
Seseorang yang telah menerima Sakramen Tobat , telah diampuni dosanya (lih Yoh 20: 23; bdk. Mat 18: 19).


Sakramen Tobat atau Pengakuan Dosa adalah sakramen yang memberikan berkat pengampunan dan kesembuhan dari Tuhan kepada anggota Gereja atas dosa-dosa berat dan ringan yang dibuat setelah menerima Sakramen Baptis.




Proses penerimaan sakramen rekonsiliasi
Untuk bertobat biasanya seseorang tidak sertamerta begitu saja bertobat, tetapi melalui beberapa tahapan atau proses. Tahapan itu antara lain:
1) Mengakui/ menyadari akan kesalahan/dosa
2) Menyesali segala kesalahan/dosa
3) Berjanji untuk tidak mengulangi lagi atas kesalahan/dosa yang pernah dilakukan
4) Menyatakan diri bertobat


Pertobatan dalam Gereja Katolik diwujudnyatakan pula dengan melakukan pengakuan dosa.




Langkah-langkah dalam melakukan pengakuan dosa antara lain
1. Melakukan pemeriksaan batin. Orang yang mengaku dosa diajak untuk mengingat kembali dosa yang telah diperbuat dalam suasana hening dan berdoa.
2. Mempunyai niat untuk bertobat menyesali dosa-dosa.
3. Masuk ruang pengakuan dan mengakui segala dosa-dosanya, minta pengampunan dan melakukan penitensi sebagi silih atas dosa yang diperbuat.
4. Merubah sikap dan tutur kata yang senantiasa menjadi baik.




Buah dari sakramen tobat
- memberikan kedamaian, ketenangan, dan kekuatan untuk berjuang mengalahkan kuasa dan dosa.
- mendapatkan perdamaian, yaitu kita berdamai dengan Allah dan juga dengan sesama.
- kekudusan gereja di pullihkan kembali karna pertobatan kita.

VIII SAKRAMEN PENGURAPAN ORANG SAKIT

Makna Sakit / Menderita Penyakit
Setiap orang pasti pernah mengalami sakit, meskipun berbeda-beda sakit yang diderita. 

Dalam menyikapi sakit yang dideritanya:
- ada yang menyikapinya secara positif, dengan menyesali tindakan sebelumnya yang menyebabkan sakit, banyak berdoa, dan berserah diri kepada Tuhan
- ada pula yang menyikapi secara negatif dengan terus-menerus mengeluh, menyalahkan diri sendiri, menyalahkan orang lain, merasa ditinggalkan sanak keluarga, dan takut mati

Apa pun sikap yang dimiliki oleh orang yang sakit, pada dasarnya mereka sangat membutuhkan dukungan dan motivasi dari orang lain untuk kesembuhannya.

Gereja senantiasa memperhatikan orang yang sakit, yaitu dengan memberikan pendampingan kepadanya melalui pemberian Sakramen Pengurapan Orang Sakit.

Sakramen Pengurapan Orang Sakit
- diberikan kepada orang beriman yang merasa mulai menghadapi bahaya maut karena sakitnya atau karena lanjut usia atau orang yang menghadapi operasi besar.
- dapat diterima seseorang lebih dari satu kali.


Dasar Alkitab Sakramen Pengurapan Orang Sakit
Yak 5: 13-16
- doa (resmi Gereja) menjadi hal yang sangat penting karena dibawakan oleh para penatua jemaat
- selain doa resmi, dilakukan juga pengolesan dengan minyak dalam nama Tuhan
- kita percaya bahwa melalui doa Allah akan menyelamatkan orang sakit dan membangunkan dia serta mengampuni segala dosa-dosanya


Ajaran Gereja tentang Sakramen Pengurapan orang Sakit
Lumen Gentium art 11
Melalui perminyakan suci dan doa para imam, seluruh Gereja menyerahkan orang sakit kepada Tuhan, yang bersengsara dan telah dimuliakan, supaya Ia menyembuhkan dan menyelamatkan mereka; bahkan Gereja mendorong mereka untuk secara bebas menggabungkan diri dengan sengsara dan wafat Kristus dan dengan demikian memberikan sumbangan kepada umat Allah

Makna yang terkandung dalam Lumen Gentium art 11:
melalui sakramen pengurapan orang sakit, seseorang dipersatukan dengan Kristus yang wafat dan bangkit dengan mulia yang menjadi sumber pengharapan dan kekuatan bagi si sakit

Sakramen Pengurapan Orang Sakit hanya boleh diberikan oleh imam atau uskup dengan mengoleskan minyak orang sakit (OI: oleum infirmorum) di dahi dan tangan si sakit sambil mengucapkan “semoga karena pengurapan suci ini, Allah yang Maharahim menolong saudara dengan rahmat Roh Kudus. Semoga Tuhan membebaskan saudara dari dosa san membangunkan saudara di dalam rahmat-Nya".

Dalam menerimakan Sakramen Pengurapan Orang Sakit dapat dilakukan di gereja, di rumah, atau di rumah sakit.

Simbol pokok yang harus kelihatan dalam sakramen ini adalah 
- uskup/imam yang meletakkan tangan ke atas orang sakit sambil berdoa bagi si sakit
- pengurapan dengan minyak.

Urutan perayaan sakramen ini adalah:
- jika masih memungkinkan, sangat baik jika pemberian sakramen ini didahului dengan penerimaan Sakramen Tobat
- Uskup/ Imam meletakkan tangan ke atas orang sakit sambil berdoa bagi si sakit.
- Pengurapan dengan minyak
- Jika memungkinkan juga dapat dilanjutkan dengan penerimaan komuni.

Dalam pelaksanaan Sakramen Pengurapan Orang Sakit, paling tidak ada tiga unsur pelakunya:
- Imam: pemimpin upacara yang menerimakan Sakramen Pengurapan Orang Sakit, yang tidak dapat diwakili oleh orang yang tidak ditahbiskan.
- Si sakit: orang yang menderita sakit berat dan sudah dibaptis. Ia akan mendapat penghiburan dan kekuatan dari doa-doa Gereja serta rahmat Tuhan.
- Jemaat: keluarga si sakit beserta umat lingkungan setempat yang menjadi pendukung si sakit untuk menerima rahmat Tuhan. 

Makna dari Sakramen Pengurapan Orang Sakit
- menganugerahkan rahmat Roh Kudus yang menjadikan si penderita mempunyai kekuatan, ketenangan, dan kebesaran hati untuk mengatasi kesulitan akibat sakitnya.
- mengajak si sakit untuk mempersatukan penderitaan yang dialaminya dengan penderitaan Yesus Kristus.
- menganugerahkan rahmat Gerejani, keikutsertaan dalam penderitaan dan sengsara Kristus menyucikan dirinya.
- menyiapkan orang agar bila akhirnya meninggal, ia layak menghadap Bapa.


Rahmat yang diterima dari sakramen pengurapan orang sakit:
- menganugerahkan Roh Kudus yang menjadikan si penerima mempunyai kekuatan, ketenangan dan kebesaran hati untuk mengatasi kesulitan
- menganugerahkan rahmat Gerejani
- mengajak penderita untuk mempersatukan penderitaannya dengan penderitaan Yesus
- Menyiapkan agar bila penerimanya meninggal ia layak menghadap Bapa

VIII GEREJA TANDA SARANA KESELAMATAN MANUSIA

 TANDA DAN SARANA KESELAMATAN

Kehadiran Tuhan yang menyelamatkan menjadi suatu kebutuhan mutlak bagi manusia; namun demikian dalam karya penyelamatan-Nya, Tuhan tidak serta merta hadir secara fisik dalam menyelamatkan manusia sekarang ini. 

Kehadiran Allah dalam kehidupan kita melalui tanda-tanda; Allah tidak secara tiba-tiba hadir di hadapan kita secara fisik, melainkan melalui tanda-tanda yang menunjukkan bahwa Allah itu ada dan berkarya. 

Allah menyelamatkan manusia melalui sarana-sarana yang ada di dunia ini, dengan simbol atau lambang-lambang.

Manusia atau sesama dapat pula dipakai oleh Allah untuk menjadi sarana keselamatan bagi orang lain. Jadi, Tuhan dapat berkarya melalui sesama kita.

Bagi umat Kristiani, Gereja adalah sarana yang dipergunakan oleh Tuhan dalam melaksanakan karya penyelamatan-Nya.



AJARAN GEREJA TENTANG TANDA DAN SARANA PENYELAMATAN OLEH ALLAH
Gereja hadir untuk melaksanakan tugas perutusan yang telah diterima oleh para Rasul dari Yesus. Tugas perutusan tersebut merupakan tugas untuk melanjutkan karya Yesus dalam mewartakan kerajaan Allah.

Gereja berperan untuk membawa umat semakin berkenan kepada Yesus dan tetap setia kepada Yesus.

Yesus yang telah wafat dan bangkit, tidak lagi hadir secara langsung kepada setiap orang. 

Wajah dan kehadiran Yesus nampak dalam wajah dan kehadiran Gereja di tengah masyarakat.

Gereja menjadi sarana bagi umat untuk dapat menjalin komunikasi yang semakin  dekat dan erat dengan Allah.

Dalam komunikasi atau pertemuan dengan Tuhan dipergunakan simbol-simbol atau tanda. Tanda atau simbol dalam komunikasi atau pertemuan kita dengan Tuhan itulah yang disebut dengan sakramen.


GEREJA DAN SAKRAMEN
Sakramen berasal dari bahasa Latin “sacramentum” yang berarti sarana dan tanda keselamatan Allah bagi manusia.

Gereja adalah merupakan sakramen, yaitu 
- tanda dan sarana persatuan mesra dengan Allah dan kesatuan seluruh umat manusia. 
- tanda yang menyelamatkan umat manusia. 

Gereja memiliki tugas untuk menjadi sarana dan pembawa keselamatan bagi umat manusia.

Gereja itu dalam Kristus bagaikan sakramen yakni tanda dan sarana persatuan mesra dengan Allah dan kesatuan seluruh umat (lih. Lumen Gentium art. 1).

Tujuan utama Gereja ialah menjadi sakramen persatuan manusia dengan Allah secara mendalam (lih. Katekismus Gereja Katolik no. 775).

Sebagai sakramen, Gereja adalah alat Kristus, Gereja di dalam tangan Tuhan adalah alat penyelamatan semua orang, sakramen keselamatan bagi semua orang, yang oleh Kristus menyatakan cinta Allah kepada manusia sekaligus melaksanakannya.

Sakramen-sakramen merupakan pengungkapan diri Gereja sebagai Sakramen Kristus dan menjadi lambang serta sarana penyelamatan.
Sakramen-sakramen dimaksudkan untuk 
- menguduskan manusia
- membangun Tubuh Kristus
- mempersembahkan ibadat kepada Allah
Dalam setiap sakramen terkandung materia (perbuatan) dan forma (kata) yang dapat dipahami oleh manusia.

Aspek-aspek dalam sakramen:
- aspek antropologis (manusiawi)
   berhubungan dengan sifat manusiawi atau kemanusiaan manusia
- aspek Kristologis (peran Kristus)
   bersumber kepada Kristus sebagai asal daru semua sakramen
- aspek eskatologis (peran Gereja)
   berhubungan dengan Gereja sebagai pelaksana sakramen berdasarkan perintah Kristus dan sebagai jemaat

Gereja menyalurkan rahmat keselamatan melalui 7 (tujuh) sakramen 
- sakramen Baptis, Penguatan dan Ekaristi (yang termasuk sebagai sakramen inisiasi); 
- Sakramen Tobat dan Pengurapan Orang Sakit (yang termasuk dalam sakramen penyembuhan); 
- Sakramen Tahbisan dan Perkawinan (yang termasuk dalam sakramen perutusan).

Gereja sebagai tanda dan sarana keselamatan bagi semua orang karena melalui sakramen Gereja menyalurkan rahmat keselamatan dari Allah yang tampak nyata dalam kata-kata dan tanda-tanda dalam setiap sakramen.

XI SMAK GEREJA DAN DUNIA : MASALAH DIHADAPI DUNIA

 Kompetensi Dasar

1.5.   Bersyukur atas hubungan Gereja dengan dunia sehingga dapat terlibat 
         dalam kegembiraan dan keprihatinan dunia.
2.5.  Bekerja sama mengembangkan keterlibatan Gereja dalam kegembiraan dan 
         keprihatinan dunia.
3.5.  Memahami hubungan Gereja dengan dunia agar dapat terlibat 
         dalam kegembiraan dan keprihatinan dunia.
4.5.  Melakukan aktivitas tentang hubungan Gereja dengan dunia 
         agar dapat terlibat dalam kegembiraan dan keprihatinan dunia.


Sekilas Label
Acapkali muncul pertanyaan seputar sikap Gereja menghadapi keadaan sosial, ekonomi, kebudayaan, dan politik dalam hidup sehari-hari. Bagaimanakah Gereja menyikapi umat yang hidup melarat, tidak cukup makan dan minum, tidak bisa bayar uang obat, tidak bisa mengecapi pendidikan dasar? Apakah Gereja hanya meminta mereka untuk berdoa dan memohon kepada Tuhan supaya Dia menolong untuk menghadapi masalah-masalah yang sedang dihadapi di dunia ini? , Disamping memohon kepada Tuhan dengan tekun, Gereja juga mengambil sejumlah tindakan nyata untuk mengeluarkan mereka dari kungkungan sosial yang menyengsarakan, menyakitkan, dan menekan lahir dan batin.

Konsili Vatikan II merupakan tonggak pembaharuan hidup Gereja Katolik secara menyeluruh. Gaudium et Spes menaruh keprihatinan secara luas pada tema hubungan Gereja dan Dunia modern. Ada kesadaran kokoh dalam Gereja untuk berubah seiring dengan perubahan kehidupan manusia modern. Hal-hal yang disentuh oleh GS berkisar tentang kemajuan manusia di dunia modern. Selain menyoroti masalah jurang yang tetap lebar antara si kaya dan si miskin, hubungan Gereja dan dunia dibahas secara lebih gamblang. Sebagai contoh menyentuh nilai hubungan timbal balik antara Gereja dan dunia pada beberapa masalah mendesak, seperti; perkawinan, keluarga, kebudayaan, pendidikan kristiani; kehidupan sosial-ekonomi, perdamaian dan persatuan bangsa-bangsa, pencegahan perang serta kerja sama internasional. Konsili menegaskan bahwa kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan manusia-manusia zaman ini, terutama kaum miskin dan yang menderita, adalah kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan para murid Kristus juga (GS art.1).

Dalam topik ini, kita akan belajar untuk memahami bahwa Gereja sebagai kumpulan orang beriman yang hidup dalam dunia yang dinamis, maka Gereja pun harus bersifat dinamis pula. Dalam dinamika itu, Gereja terpanggil untuk melaksanakan dan mewujudkan amanat Yesus Kristus. Gereja (kita semua) diutus ke tengah-tengah dunia untuk membangun kehidupan manusia yang damai, adil, sejahtera serta senantiasa menjaga keutuhan alam ciptaan Tuhan.


Permasalahan-Permasalahan yang Sedang Dihadapi Dunia Saat Ini
Ada 8 persoalan sosial yang sekarang ini dihadapi oleh manusia yaitu
Hak Asasi Manusia
Hak dasar yang dimiliki oleh manusia sejak awal kehidupan dan merupakan anugerah Allah sehingga harus dibela dan diperjuangkan.
Yang menjadi fokus Gereja dalam persoalan Hak Asasi Manusia adalah memperjuangkan agar hak asasi manusia ditegakkan sesuai dengan hakikatnya. Perjuangan ini dilakukan melalui antara lain melarang tindakan aborsi dan mengembangkan kepedulian sosial, terutama bagi kaum KLMTD (kecil, lemah, miskin, tersingkir dan difabel)


Ketidakadilan Gender
Pembedaan sikap yang dilakukan seseorang atau sekelompok masyarakat tertentu, terhadap orang atau kelompok lain karena faktor jenis kelamin. Dalam persoalan ketidakadilan gender, yang menjadi fokus Gereja adalah mengembangkan kesetaraan martabat dan derajat antara laki-laki dan perempuan.
Perjuangan ini dilakukan antara lain dengan:
a. menempatkan suami istri sebagai kepala keluarga
b. memberi peran yang lebih banyak kepada perempuan dalam Gereja


Ideologi
Ideologi adalah sekumpulan gagasan atau ide yang digunakan sebagai dasar hidup bagi seseorang atau sekelompok orang tertentu.
a. Liberalisme : ideologi yang mengagungkan kebebasan individu sebesar-besarnya
b. Komunisme : ideologi yang mencita-citakan kehidupan bersama tanpa hak pribadi
c. Monarkisme : ideologi yang menempatkan pemimpin sebagai penguasa mutlak
d. Demokrasi : ideologi yang menempatkan rakyat sebagai pemegang kedaulatan
Yang menjadi fokus Gereja dalam persoalan ideologi adalah mewujudkan kehidupan masyarakat yang lebih baik melalui penerapan ideologi yang seimbang. Hal itu dilakukan melalui penyebarluasan pemahaman bahwa ideologi yang seimbang adalah ideologi yang dapat mengarahkan hidup pada kesejahteraan umum atau bonum commune.


Sistem Ekonomi
Pola yang dipakai seseorang atau sekelompok masyarakat tertentu untuk mengatur kehidupan ekonomi di wilayahnya.
Secara umum ada 3 sistem ekonomi, yaitu:
a.Pasar bebas: memberikan kesempatan seluas-luasnya bagi setiap orang untuk menjalankan usaha.
b.Sentralistik: mewujudkan kesejahteraan melalui kepemilikan bersama atas alat produksi dan pembatasan kepemilikan pribadi.
c. Campuran: kombinasi antara 2 sistem ekonomi pasar bebas dan sentralistik. Ada dua contoh sistem dari sistem ekonomi campuran, yaitu Welfare State dan Pancasila.
d.Welfare State: warga kaya ditarik pajak tinggi untuk membantu kesejahteraan warga miskin.
e.Pancasila: sektor ekonomi yang menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai negara, sedang yang lain diberikan pada swasta.
Fokus Gereja dalam persoalan Sistem Ekonomi adalah mendorong semakin banyak orang mengembangkan sistem ekonomi yang berkeadilan. Gereja selalu mengusahakan tercapainya sistem ekonoi yang berkeadilan. Menurut Gereja Katolik, sistem ekonomi yang berkeadilan adalah sistem ekonomi yang mengembangkan prinsip “solidaritas” dan “subsidiaritas” dalam kehidupan bersama.


Keutuhan Lingkungan Hidup
Keutuhan lingkungan hidup adalah keseluruhan hidup dan relas harmonis yang terjadi serta berkembang di antara manusia dan ciptaan lainnya. Keutuhan lingkungan hidup ini terancam akibat aktivitas manusia yang cenderung mengakibatkan kerusakan dan tidak memperhatikan keseimbangan alam ciptaan. Sebagai tanggapan atas persoalan yang mengancam lingkungan hidup sudah ada 3 gerakan menjaga keutuhan lingkungan hidup, misalnya:
a. etika ekologis : sikap sadar bahwa manusia merupakan sebagian kecil dari ekosistem yang bertugas mengakui dan memelihara keseluruhan ekosistem tersebut.
b. ekologi sosial : sikap mau membatasi aktivitas manusia dan menjaga keharmonisan agar tidak terjadi dominasi kekuasaan manusia terhadap alam ciptaan
c. eko-feminisme : sikap yang mewujudkan culture of caring (budaya memelihara) dalam segala aktivitas manusia.
Berkenaan dengan persoalan lingkungan hidup, fokus yang diambil Gereja adalah mengembangkan bentuk kehidupan yang berpusat pada pemeliharaan keutuhan alam ciptaan. Tindakan ini dilakukan melalui penyebaran pandangan ekopastoral serta sosialisasi dan aksi pemeliharaan keutuhan alam ciptaan, seperti Gereja Ramah Lingkungan, Silih Ekologis, Bank Sampah Gereja, dan sebagainya.


Pemanfaatan Media
Massa Media massa adalah seperangkat alat yang dipakai oleh manusia untuk menyebarkan informasi secara luas. Media massa ibarat dua sisi mata uang. Jika dimanfaatkan secara benar, hasilnya akan baik dan jika dimanfaatlam secara salah, hasilnya pun tidak kalah merusak.
Ada 4 persoalan yang ada dalam media massa, yaitu:
a. Pengaruh televisi : bobot siaran televisi semakin tidak mendalam dan hanya menekankan yang diminati saja, tanpa mempertimbangkan kualitas isi
b. Sensor : sensor kadangkala tidak didasarkan pada hukum yang adil sehingga sensor tidak sepenuhnya dapat dikatakan memadai bagi masyarakat.
c. Pornografi : tidak ada pemahaman yang sama mengenai pornografi sehingga persoalan ini tidak dapat diputuskan secara pasti
d. Tanggung jawab konsumen : tidak semua konsumen media massa dapat bertindak secara bijaksana sehingga tidak sedikit yang terjerumus pada hal-hal yang merugikan.
Terhadap persoalan media massa, Gereja memiliki pokok perhatian, yaitu mendorong umat beriman serta umat manusia untuk mengembangkan sikap yang sehat dalam pemanfaatan media massa. Tindakan ini dilakukan melalui penyampaian pesan pemanfaatan media komunikasi sosial secara sehat, terutama pada Hari Komunikasi Sosial Sedunia.


Rekayasa Genetika
Rekayasa Genetika adalah proses pemuliaan makhluk hidup, baik tumbuhan maupun hewan melalui teknologi canggih agar memiliki kualitas yang lebih baik. Beberapa contoh hasil rekayasa genetika: cairan insulin buatan (1978), tembakau, jagung dan kedelai transgenik (1983). Meskipun sudah banyak dilakukan, rekayasa genetika masih menimbulkan keraguan berkenaan dengan kemungkinan akibat yang ditimbulkan dari pemanfaatan hasil rekayasa genetika terhadap kesehatan manusia.
Berkenaan dengan persoalan Rekayasa Genetika, fokus yang diambil oleh Gereja adalah memberikan pemahaman agar seluruh umat manusia dapat memanfaatkan produk-produk hasil rekayasa genetika secara aman sehingga kesehatan manusia Gereja Katolik melihat sudah ada usaha untuk memberikan jaminan keamanan terhadap pemanfaatan produk rekayasa genetika seperti yang dinyatakan dalam Protokol Kartanega. Protokol Kartagena telah memberikan pemecahan terhadap persoalan ini melalui prinsip kehati-hatian (precautionary principles). Prinsip inilah yang diadopsi Gereja dalam bersikap menyadarkan masyarakat dalam memanfaatkan produk hasil rekayasa genetika.


Perdamaian
Perdamaian adalah situasi yang memungkinkan manusia dan masyakart hidup dengan tenang tanpa kekhawatiran sehingga dapat mengejar tujuan hidupnya secara paripurna. Ajaran mengenai perdamaian tersebar secara luas dalam Kitab Suci (lih. Bil 6:26; Yes 11:6-9; 48:18-19; 54:13; dan sebagainya).
Berkaitan dengan persoalan perdamaian yang menjadi fokus Gereja adalah mengembangkan bentuk kehidupan yang mengusahakan terciptanya perdamaian demi kesejahteraan manusia. Sikap ini sudah dinyatakan dalam beberapa tindakan Gereja berikut, antara lain:
- Menetapkan Hari Perdamaian Dunia
- Menolak perang dan usaha penyelesaian persoalan dengan menggunakan kekerasan
- Membudayakan kasih dan pengampunan sebagai solusi persoalan sosial


Ajaran Kitab Suci dan Ajaran Gereja tentang Keadilan, Perdamaian, dan Lingkungan Alam.
Ajaran Kitab Suci tentang Perdamaian dan Keadilan
Mat 5: 13-16
Yesus yang mulai membangun Kerajaan Allah di bumi ini telah mengamanatkan kepada kita para pengikut-Nya agar menjadi garam dan terang dunia (lih. Mat 5:13-16) serta ragi bagi masyarakat.
Yesus Kristus Sang Juru Selamat, Sang Raja Damai, akan membangun kerajaanNya di bumi ini, tempat manusia akan mengalami kesejahteraan lahir dan batin.
Sebagai pengikut Kristus, kita dipanggil untuk berperan serta secara aktif dalam membangun Kerajaan Allah di dunia, supaya dunia lebih manusiawi dan layak untuk dihuni.


Ajaran Gereja tentang Perdamaian dan Keadilan, serta Kesejahteraan
Gaudium et Spes.art.26
Kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan orang-orang zaman sekarang, terutama kaum miskin dan menderita, merupakan keprihatinan Gereja.
Gereja mengalami dirinya sungguh erat berhubungan dengan umat manusia serta sejarahnya. Gereja yang hidup dalam dunia yang dinamis, maka Gereja pun harus hidup dinamis. Dalam dinamika itu, Gereja terpanggil untuk melaksanakan dan mewujudkan amanat Yesus Kristus. Gereja diutus ke tengah-tengah dunia untuk membawa damai sejahtera.

Sunday, May 23, 2021

Hari PENTAKOSTA 2021

 

Hari raya Pentakosta kita rayakan dengan penuh kepercayaan bahwa ROH KUDUS itupun turun saat ini pula. Semoga dengan ROH KUDUS ITU PUN bekerja dalam kehidupan pribadi kita. Keyakinan dengan penuh berkat bahwa kita hidup tidak sendiri, melainkan ALLAH senantiasa menyapa kita setiap saat. Harapan akan ROH KUDUS ini menjadi kekuatan yang luar biasa dalam hidup beriman kita.


Pentakosta menjadi prasyarat kita untuk senantiasa bangkit untuk mewartakan kabar suka cita. Bersama Roh Kudus, kita menjadi lebih berani untuk bersaksi bahwa YESUS TELAH BANGKIT. Rahmat Paskah menjadi buah kepedulian akan kehidupan Gereja di luar dirinya. Gereja harus hadir pada dunia pada zamannya. Seperti saat ini, di era pandemi COVID 19. BAGAIMANA ROH KUDUS ITU NYATA HADIR DALAM KEHIDUPAN KITA SEKARANG DIMANA KITA BERADA?


MARI SAMBUT HIDUP BARU DENGAN ROH PEMBAHARU YANG KITA RAYAKAN SAAT PENTAKOSTA INI!!!

Monday, April 26, 2021

8 KATOLIK LAT SOAL

 

Citra Allah, an interactive worksheet by mistoyosag
liveworksheets.com



Setelah menyelesaikan menjawab silakah kirim ke Slammy2405@gmail.com

8 - SAKRAMEN BAPTIS

 





Setelah menyelesaikan menjawab silakah kirim ke Slammy2405@gmail.com