Selamat Datang

Selamat Datang di Blog ini bersama R. Slamet Widiantono ------**------ TUHAN MEMBERKATI -----* KASIH ITU MEMBERIKAN DIRI BAGI SESAMA -----* JANGAN LUPA BAHAGIA -----* TERUS BERPIKIR POSITIF -----* SALAM DOA -----* slammy
Showing posts with label BERAGAMA. Show all posts
Showing posts with label BERAGAMA. Show all posts

Sunday, September 1, 2019

BERAGAMA DAN BERIMAN SEBAGAI TANGGAPAN ATAS KEHENDAK ALLAH

Unsur Hakiki dari Agama = Wahyu dan Iman
Wahyu adalah pernyataan diri Allah terhadap manusia 
                       (Allah menyatakan diri Nya kepada manusia).
Iman adalah tanggapan manusia terhadap pewahyuan diri Allah, 
                     penyerahan diri secara total kepada Allah dan 
                     kehendak Nya.
Pandangan Umum Tentang Gereja

Agama adalah sesuatu yang melekat dalam diri seseorang, berupa 
                        ungkapan dan perwujudan keyakinan pribadi yang 
                        menuntun seseorang pada keselamatan kini 
                        dan nanti di akhirat.
Agama merupakan perangkat kepercayaan (iman) yang mengatur hubungan manusia dengan Allah dan manusia dengan sesamanya serta lingkungannya, melalui doa, ritual, atau liturgi dan ajaran moral.
Ada berbagai alasan/motivasi yang muncul saat manusia menganut suatu agama :
  1. Mencari perlindungan (rasa aman) bagi hidupnya
  2. Menemukan jawaban atas persoalan hidup
  3. Menemukan arti/makna hidup
  4. Sebagai pedoman dalam menentukan tindakan yang baik
  5. Memuaskan kerinduan akan masa depan yang lebih baik
  6. Pedoman dalam menentukan tindakan yang baik
  7. Menemukan rasa aman ketika menghadapi kesulitan hidup
Beragama yang benar harus didasarkan pada dorongan dari dalam untuk mencari kebenaran. Beragama harus dengan motivasi untuk membangun hubungan yang semakin mendalam dengan Tuhan dan sesamanya.
Berdasarkan Nostra Aetate art.1, beragama yang benar adalah sebagai berikut :
  1. Tidak bersikap formalistis dalam beragama
  2. Benar benar mendalami ajaran agama kita
  3. Mengamalkan ajaran agama secara baik dan benar
  4. Bersikap kritis dalam menyikapi pandangan agama sendiri maupun agama orang lain

Wednesday, August 28, 2019

BERAGAMA

Wahyu adalah pernyataan diri Allah terhadap manusia (Allah menyatakan diri-Nya kepada manusia). Unsur wahyu adalah mengenalkan / memperkenalkan, menunjukkan, menghadirkan Diri dan kehendak-Nya (datang, mendekat / melawat, mendekati, menyapa, menolong).

Agama adalah sesuatu yang melekat dalam diri seseorang, berupa ungkapan dan perwujudan keyakinan pribadi yang menuntun seseorang pada keselamatan kini dan nanti di akhirat.dari dahulu manusia sudah menyadari bahwa Allah merupakan sumber keselamatan manusia. 
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, agama didefinisikan sebagai ajaran / sistem yang mengatur tata keimanan (keimanan) dan peribadatan kepada Tuhan Yang Maha Esa, serta kaidah yang mengatur hubungan manusia dengan sesame manusia serta lingkunganya. 
Dalam Glossary Katekimus Gereja Katolik dikatakan bahwa agama adalah satu perangkat kepercayaan dan tindakan yang diikuti oleh mereka yang berkomitmen untuk melayani dan menyembah Allah.

Ada berbagai alasan / motivasi yang muncul saat manusia menganut suatu agama, yaitu
  1. Untuk memperoleh kepastian jawaban terhadap rahasia tersembunyi atas hidupnya, untuk dihantar pada tujuan akhir yaitu kepada Tuhan yang dikenal sebagai penyelenggara dan tujuan akhir hidup manusia
  2. Menemukan jawaban : Manusia sering menghadapi berbagai pertanyaan yang sulit dipecahkan oleh kemampuan akal-budinya.
  3. Mencari perlindungan : Dalam hidupnya manusia kerap kali merasa tidak berdaya, manusia seringkali menyadari kekuatan yang jauh lebih hebat dari dirinya
  4. Meneguhkan tata nilai ;Melalui agama, segala nilai yang baik dan benar itu dihayati sebagai yang dikehendaki Allah, sedangkan yang jahat dan salah dianggap berlawanan dengan kehendak Allah
  5. Memuaskan kerinduan akan masa depan yang lebih baik : Akhirnya konsep tentang surga dijadikan harapan masa depan, sedangkan neraka dijadikan hal untuk dihindari.

Beberapa penghayatan / praktek agama yang tidak benar
  • Menjalani hidup beragama hanya sebatas hal-hal lahiriah;
  • Beragama KTP (beragama dirasa sudah cukup jika mencantumkan identitas agama yang dianutnya dalam KTP);
  • Beragama hanya menjalankan perintah-perintah pemimpin agama saja;
  • Menyalahgunakan agama untuk kepentingan diri sendiri atau kelompoknya;
  • Menjadikan agama untuk kepentingan politis, pribadi.

Berdasarkan Nostra Aetate art. 1, beragama yang benar adalah sebagai berikut.
  • Tidak bersikap formalities dalam beragama, artinya kita jangan hanya sebatas memenuhi tuntutan / kewajiban semata, apalagi hanya sekedar ingin dilihat dan dinilai baik orang lain.
  • Benar-benar mendalami ajaran agama kita, sehingga kita tidak jatuh pada pemahaman yang dangkal dan setengah-setengah.
  • Mengamalkan ajaran agama secara baik dan benar, tidak hanya sebatas mengetahui saja.
  • Bersikap kritis dalam menyikapi pandangan agama sendiri maupun agama orang lain, dengan mengutamakan kehendak Allah sebagai ukuran kebenaran.

UNSUR - UNSUR AGAMA
  1. Jemaat : Biasanya umat beragama merasa dirinya dipersatukan bukan hanya atas inisiatif atau upaya para anggota. Tuhan sendirilah yang mempersatukan mereka.
  2. Tradisi : Salah satu unsur tradisi yang sangat penting adalah ajaran yang diteruskan secara turun temurun. Ajaran itu pada umumnya mengandung tiga bidang: ajaran keselamatan, ajaran moral dan ajaran ibadat.
  3. Ibadat:Ada yang melihat ibadat sebagai pertemuan antara Allah dan manusia. Ada juga yang membatasi ibadat pada ungkapan ketakwaan dan saling mengukuhkan iman
  4. Tempat ibadat :Tempat ibadat dipandang sebagai tempat yang dikhususkan bagi pertemuan dengan Tuhan. Selain itu tempat ibadat dipandang sebagai tempat yang suci.
  5. Petugas ibadat: Sebenarnya petugas ibadat itu suci, karena ibadat yang dilayani olehnya bersifat suci. Dalam hal ini ada perbedaan-perbedaan besar antara para petugas ibadat dari pelbagai agama.

Beragama berdasarkan Mat 5:17-48
  • Menjauhi sikap formalistis dalam beragama
  • Mendalami ajaran agama supaya tidak jatuh pada pemahaman yang dangkal dan setengah-setengah dan dapat mengamalkan ajaran agama secara benar
Beragama berdasarkan Luk 18: 9-14
  • Yesus mengkritik orang Farisi dan para pemuka agama yang merasa lebih baik dibandingkan orang lain.
  • Yesus memuji pemungut cukai karena ia bersikap rendah hati di hadapan Allah
Praktik beragama yang benar
  • Berusaha dan dimotivasi oleh keinginan menjalin hubungan yang akrab dan mendalam dengan Allah juga dengan sesama.
  • Hidup beragama itu sendiri harus didasarkan pada dorongan dari dalam untuk mencari kebenaran sehingga agama menjadi pedoman hidup dan sarana bagi manusia menuju Allah sebagai sumber keselamatan sejati
Dampak beragama yang baik dan benar
  1. Merasa damai
  2. Hidup dalam kasih dan persaudaraan
  3. Hidup tertata dengan baik
  4. Relasi dengan sesama rukun
  5. Hati mereka tak pernah tenang melihat penderitaan sesama
  6. Berani menanggung risiko dalam memperjuangkan kebenaran dan keadilan bahkan rela berkorban sampai mati

Friday, July 26, 2019

BERAGAMA

Dalam kebaikan dan kebijaksanaan-Nya. Allah berkenan mewahyukan diri-Nya dan memaklumkan rahasia kehendak-Nya; berkat rahasia itu manusia dapat menghadap Bapa melalui Kristus, Sabda yang menjadi daging, dalam Roh Kudus, dan ikut sera dalam kodrat ilahi (DV 2)

Unsur Hakaki dari Agama adalah Wahyu dan Iman
Wahyu adalah pernyataan diri Allah terhadap manusia  (Allah menyatakan diri-Nya kepada manusia). Unsur dari wahyu adalah mengenalkan/memperkenalkan, menunjukan, menghadirkan Diri dan kehendak-Nya (datang, mendekat/melawat, mendekatai, menyapa, menolong).
Harapan dengan wahyu agar manusia dapat mengenal/mengetahui Tuhannya, mengakui dan menerima Tuhannya, dan mencintai-Nya dengan penuh berserah diri kepada-Nya. Iman adalah tanggapan manusia terhadap perwahyuan diri Allah. Penyerahan diri secara total kepada Allah dan kehendak-Nya. (Lih. Kejadian 22:15-19, Ayub 1: 20-22; Lukas 1 : 30-38).
Yang memiliki unsur dari wahyun dan iman, tidak hanya dihayati secara personal tetapi juga secara kolektif (Kebersamaan sebagai umat/jemaat, sehingga agama yang lembaga ini membutuhkan ungkapan-ungkapan yang obyektif seperti : Hidup mengumat (jemaat), Ibadah (ritual keagamaan), Ajara, Pelayanan kemasyarakatan.
Hidup manusia dalam beragam selalu bersifat dianamis, maksudnya manusia dapat bergerak semakin mengerti, memahami, menghayati dan mengaplikasikan ajaran imannya dalam kehidupan sehari-hari dan berkembang menuju perbaikan diri (Pertobatan). Demikian juga manusia bergerak menjawab tuntutan dan perkembangan jaman, orientasi hidupnya semakin luas/universal dalam misi keselamatan Tuhan.
Menurut Thomas Aguinas (Teolog abad 13) agama berarti “Keterarahan manusia kepada Allah secara benar.”

Pandangan Umum tentang Agama
  Agama adalah sesuatu yang melekat dalam diri seseoran, berupa ungkapan dan  perwujudankeyakinan pribadi yang menuntun seseorang pada keselamatan kini dan nanti di akhirat. Dari dulu manusia sudah menyadari bahwa Allah merupakan sumber kepercayan kepada Allah yang menyelamatkan itu. Ungkapan kepercayaan yang dibuat manusia misalnya dalam bentuk ritual-ritual atau upacara-upacara keagamaan/kepercayaan.
            Di Indonesia terdapat berbagai agama yang dapat dipakai sebagai sarana untuk menanggapi kasih Allah yang menyelamatkan. Agama-agama yang diakui Indonesia adalah: Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha, kepercayaan (agama asli).
            Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, agama didefinisikan sebagai ajaran/ sistem yang mengatur tata (keimanan) dan peribadatan kepada Tuhan Yang Maha Esa serta kaidah yang mengatur hubungan manusia dengan sesama manusia serta lingkungannya. Dalam Glossary Katekismus Gereja Katolik dikatakan bahwa agama adalah setu perangkat kepercayaan dan tindakan yang diikuti oleh mereka yang berkomitmen untuk melayani dan menyembah Allah. Jadi, secara singkat dapat disimpulkan bahwa agama merupakan satu perangkat kepercayaan yang mengatur hubungan manusia dengan Allah dan manusia dengan sesamanya serta lingkungannya, melalui doa, ritual atau lituri dan ajaran moral.
            Berikut ini merupakan alasan/motivasi yang muncul saat manusia menganut suatu agama   :
·         Mencari perlindungan (rasa aman) bagi hidupnya
·         Menemukan jawaban atas persoalan hidup
·         Menemukan arti/makna hidup
·         Sebagai pedoman dalam menentukan tindakan yang baik
·         Memuaskan kerinduan akan masa depan yang lebih baik

Agama menjadi sarana bagi manusia untuk mengenal dan membangun relasi yang akrab dengan Tuhan Yang  Maha Esa dan juga dengan sesama manusia beserta lingkungannya.  Namun, tidak semua orang mampu menghayati hidup beragama secara benar. Beberapa penghayatan yang tidak benar    :
·         Menjalani hidup beragama hanya sebatas hal-hal lahiriah
·         Beragama KTP (beragama dirasa cukup jika mencantumkan identitas agama yang dianut dalam KTP)
·         Beragama hanya menjalankan perintah-perintah dari pemimpin agam saja
·         Menyalahgunakan untuk pentingan diri-sendiri atau kelompoknya
·         Menjadikan agama untuk kepentingan politis, dsb.

Tujuan manusia beragama
·   Menemukan rasa aman ketika menghadapi kesulitan di dalam hidup
· Untuk memperoleh arti hidup
·   Untuk pedoman dalam menentukan tindakan yang baik

Penghayati nilai-nilai hidup beragama yang tidak benar akan menimbulkan sikap munafik, fanatisme sempit dan munculnya berbagai bentuk tindakan manusia yang tidak baik ,misalnya pelanggaran-pelanggaran hukum, pelanggaran HAM, pelanggaran kemanusiaan, korupsi, dsb.
Beragama yang benar harus didasarkan pada dorongan dari salam untuk mencari kebenaran. Beragama harus dengan motivasi untuk membangun hubungan yang semakin menadalam dengan Tuhan dan sesamanya.
Bergama yang benar, tidak cukup hanya menjalankan ajaran agama sebatas mengikuti aturan-aturan dalam aamanya untuk menghindari hukuman (dosa) dan memperoleh pahala.

Pandangan Gereja Tentang Beragama (Berdasarkan Nostra Aetate art. 1)

Gereja melihat adanya kemajuan dalam relasi manusia dalam berbagai bangsa, dalam membangun relasi dan kerja sama itu, Gereja harus mempertimbangkan bahwa tujuannya adaah cinta kasih antar umat manusia makin berkembang dan dilandasi oleh nilai-nilai universal yang terdapat pada semua bangsa dan semua agama.
Berdasarkan Nostra Aetate art. 1 tersebut, beragama yang benar adalah sebagai berikut :
·         Tidak bersikap formalistis dalam beragama, artinya kita jangan hanya sebatas memenuhi tuntutan/kewjiban semata, apalagi hanya sekedar ingin dilihat dan nilai baik orang lain.
·         Benar-benar mendalami ajaran agama kita, sehingga kita tidak jatuh pada pemahaman yang dangkal dan setengah-setengah.
·         Bersikap kritis dalam menyikapi pandangan agama sendiri maupun agama orang lain, dengan mengutamakan kehendak Allah sebagai ukuran kebenaran.
Tuhan Yesus pun menghendaki agar menusia menghayati hidup keagamaannya secara benar. Berhadapan dengan orang yang tidak benar dalam menghayati hidup beragama, Yesus akan selalu mengkritiknya.
Agama harus dipahami, dihayati dan dilaksanakan, karena agama penting. Agama pentin karena membawa kita pada persahabatan dengan Allah sekarang dan selamanya, dan tiada lain yan lebih penting daripada hal ini.
Apa gunanya seseorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya? (Mat. 16:261)

Kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu. ( Yoh. 8:32)