Selamat Datang

Selamat Datang di Blog ini bersama R. Slamet Widiantono ------**------ TUHAN MEMBERKATI -----* KASIH ITU MEMBERIKAN DIRI BAGI SESAMA -----* JANGAN LUPA BAHAGIA -----* TERUS BERPIKIR POSITIF -----* SALAM DOA -----* slammy
Showing posts with label KRITIS. Show all posts
Showing posts with label KRITIS. Show all posts

Friday, August 30, 2019

KRITIS terhadap IDEOLOGI

  1. Liberalisme : Kebebasan adalah nilai politik yang paling utama. Bercita-cita membentuk masyarakat yang bebas, berpikir, bertukar gagasan, sistemp pemerintah yang transparan, ekonomo pasar yang mendukung usaha pribadi yang relative bebas.
  2. Kapitalisme : system dikuasai oleh kaum pemilik modal. Mengutamakan pengumpulan kekayaan. Seringkali kesejahteraan kaum pekerja diabaikan.
  3. Komunisme : (bertentangan dengan prinsip-prinsip liberalism dan mengkeritik kapitalisme). Bercita-cita agar masyarakat berada pada suatu sistem bahwa setiap anggota masyarakat dapat memeperoleh hasil sesuai kebutuhan. Maka ada pembatasan hak milik demi kesetaraan dan keadilan sosial. Pencetusnya Karl Marx dan Friedrich Engels. Menurut paham ini, kaum buruh adan pekerja adalah juga pemilik usaha, pemilik / subjek produksi bukan alat produksi.
  4. Sosialisme : muncul untuk mengeritik dan menggantikan paham kapitalis. Muncul di pertengahan abad 19 dan awal abad 20. Bercita-cita membentuk suatu masyarakat yang egaliter – artinya memiliki kesamaan drajat. Politik seharusnya melayani masyarakat banyak bukan berpihak kepada kaum pemilik modal.
  5. Demokrasi : Paham politik yang bercita-cita mewujudkan kedaulatan rakyat atas Negara. Menolak system komunis yang dictator, menolak liberalisme yang terlampau bebas. Wujudnya adlaah trias politika: - eksekutif (presiden), yudikatif (hukum) dan legistatif (perwakilan rakyat). Ketiga lembaga Negara yang saling control untuk mencapai kesejateraan rakyat banyak.
  6. Neo-Liberalisme : fokus pada perdagangan bebas, agar setiap Negara dapat memperoleh keuntungan demi kemajuan dan kesejahteraan rakyatnya.
  7. Fundamentalisme : Pandangan yang hendak mengembalikan system pada keadaan asli sedia kala. Memperkenalkan kembali hukum-hukum tua dan lama, yang keras dan kasar karena menganggap itu lebih bisa menata masyarakat. Ini biasanya terjadi karena ketidak-puasan system yang sedang berjalan. Biasanya dikaitkan dengan ajaran agama, sebagai ajaran yang paling tua.
  8. Pluralisme : pemikiran atau paham yang memandang dan menjunjungi tinggi nilai-nilai keberagaman agar dapat hidup bersama meski berbeda-beda. Paham ini menghormati dan menghargai perbedaan. Ini adalah salah satu ciri masyarakat modern.
  9. Materialisme : Paham yang beranggapan bahwa seluruh kehidupan ini pada intinya adalah materi. Sesuatu diakui keber-ada-annya karena materi. Paham ini menghasilkan sifat materialistic, yakni pengakuan akan keber-ada-an seseorang menurut materi yang dimilikinya. Seseorang merasa akan diakui bila materinya banyak.
  10. Hedonisme : Paham yang hanya mengejar kesenangan atau kenikmatan materi. Tujuan hidup adalah mencapai kesenangan. Hidup harus dinikmati. Bila bisa dihindari, perjuangan, kepahitan, kesakitan seharusnya dihindari.
  11. Konsumerisme : Paham yang memandang materi dan hedonis sebagai sesuatu yang patut dinikmati. Konsumeris adalah memakai materi sebanyak-banyaknya untuk memuaskan keinginan/ nafsu bukan karena sungguh dibutuhkan.
  12. Induvidualisme : Paham yang memandang pentingan pribadi di atas segalanya. Hak-hak pribadi tidak boleh diabaikan atau dikorbankan karena kepentingan umum. Semua orang harus bisa berjuang sendiri untuk mencapai kesejahteraan, tidak perlu dibantu.
Paham-paham Ideologi Pada Jaman Yesus Kristus :  
Kaum Farisi : 
  • Dikenal saleh, berusaha menerima dan menjalankan hukum lisan maupun tertulis dengan sangat teliti sebagai suatu kewajiban. Maka mereka mengecam Yesus yang sering melanggar hari Sabat dan bergaul dengan pada pendosa.
 Kaum Saduki : 
  • Orang-orang berpendidikan, mengutamakan kekuatan akal budi. Memiliki pengaruhi politik yang kuat, dapat mempengerahui Imam Agung, Kaum Bangsawan, dan golongan konservatif. Mereka menolak tradisi lisan, tidak percaya pada kebangkitan badan dan malaikat.
 Kaum Zelot : 
  • Para pejuang kemerdekaan Yahudi atas penjajahan Romawi. Melihat Mesias sebagai pemimpin perang dan pemimpin bangsa. Perjuangan mereka telah dimulai sejak awal abad pertama Masehi hingga sekitar tahun 70 M, dengan kehancuran Yerusalem.
 Kaum Eseni : 
  • Kelompok para pertapa dan pendoa. Mereka memisahkan diri dari keramaian. Mereka menjalankan hukum taurat dengan ketat untuk kelompok mereka sendiri. Selalu hidup dalam komunitas, tanpa harta kekayaan pribadi, sebagian memilih untuk tidak menikah.

Bersikap Kritis :
  1. Mengetahui semua ideology yang ditawarkan, mengritisinya dengan tidak serta merta menerimanya.
  2. Tidak lagi memandang hanya pada diri sendiri atau kelompok sendiri saja, melainkan kepentingan sesama yang lebih luas. Apakah ideology itu dapat membantu orang lain ke arah yang lebih baik.
  3. Membuka perhatian yang lebih sempurna yakni ke arah Allah sendiri.

Monday, July 29, 2019

KRITIS AKAN IDEOLOGI & GAYA HIDUP

BERSIKAP KRITIS 
TERHADAP IDEOLOGI  DAN GAYA HIDUP 
YANG BERKEMBANG DEWASA INI

Dalam hidup modern dewasa ini, kita tidak dapat lepas dari berbagai pengaruh lingkungan, baik itu paham atau ideologi maupun aliran hidup yang ada dan berkembang saat ini. Terlebih seperti yang dialami oleh banyak kaum muda sekarang ini, tren apapun bentuknya mulai dari mode, musik, film, sampai pada berbagai gaya hidup lainnya, hingga perangkat teknologi, tak bisa dilepaskan pengaruhnya bagi kita. Tingkatan pengaruhnya sangat tergantung pada kedewasaan kita dalam menjalani dan menentukan pilihan. Pada pelajaran ini, kita akan mengamati berbagai pengaruh dari suatu ideologi, aliran/paham, dan tren-tren yang berkembang saat ini. Harapannya adalah bahwa kita harus bersikap kritis terhadap:

a. Tren-tren yang sedang berkembang pesat pada saat ini, antara lain: materialisme, konsumerisme, individualisme, pluralisme, fundamentalisme, dan sebagainya. Tren-tren itupun dapat mempengaruhi kaum muda dalam usaha pencarian identitasnya.

b. ideologi, paham-paham, dan aliran yang beranekaragam. Sebab, ideologi, paham-paham, dan aliran itu dapat melahirkan partai-partai politik atau sekte-sekte agama. Kaum muda sering dijadikan sasaran dari penyebaran dan perluasan ideologi atau paham-paham dan aliran. 

Sewaktu hidupNya, Yesus bertemu dengan berbagai orang yang menganut macam-macam ideologi, paham dan aliran, misalnya kaum Farisi, kaum Saduki, kaum Esseni, dan kaum Zelot. Dalam menghadapi berbagai ideologi, paham, dan aliran tersebut, Yesus sudah memiliki sikap kritis. Yesus tetap pada pilihan-Nya (opsi-Nya), yaitu Kerajaan Allah. Yesus juga pernah dihadapkan kepada berbagai tawaran yang menggiurkan, seperti jaminan sosial ekonomi, kekuasaan, dan kesenangan, tetapi Yesus tetap menolaknya (Lihat Matius 4: 1-11). Pilihan (opsi) Yesus tetap pada mewartakan dan memberi kesaksian tentang Kerajaan Allah. 

Pada zaman yang penuh tawaran ideologi, paham-paham, dan macam-macam godaan untuk berbagai jaminan sosial ekonomi dan politik serta kesenangan, kaum muda hendaknya membekali diri dengan sikap kritis, sehingga dapat menentukan pilihan dengan benar. 
Tentang Gaya Hidup: 

Dalam hidup modern dewasa ini, kita tidak dapat lepas dari berbagai pengaruh lingkungan, baik itu paham atau ideologi maupun aliran hidup yang ada dan berkembang saat ini. 
Gaya hidup adalah perilaku seseorang yang ditunjukkan atau di perlihatkan dalam aktivitas, minat, dan pendapatnya yang berkaitan dengan citra dan status sosialnya. 

Menurut KBBI, gaya hidup adalah pola tingkah laku sehari-hari segolongan manusia di dalam masyarakat. Gaya hidup menunjukkan bagaimana orang mengatur kehidupan pribadinya, kehidupan masyarakat, perilaku di depan umum, dan upaya membedakan statusnya dari orang lain melalui lambang-lambang sosial. Gaya hidup atau life style dapat diartikan juga sebagai segala sesuatu yang memiliki karakteristik, kekhususan, dan tata cara dalam kehidupan suatu masyarakat tertentu. 
Gaya hidup bisa ditentukan oleh apa saja, mulai dari agama, profesi, zaman, teknologi, hobi, umur, jenis kelamin, idola, dan sebagainya. Semua itu terbentuk karena adanya kesamaan sejumlah manusia dalam menjalani hidupnya pada suatu jalan tertentu.

Bagi kaum muda sekarang ini, tren apapun bentuknya mulai dari mode, musik, film, sampai pada berbagai gaya hidup lainnya, hingga perangkat teknologi, tak bisa dilepaskan pengaruhnya bagi kita.Tingkatan pengaruhnya sangat tergantung pada kedewasaan kita dalam menjalani dan menentukan pilihan. 

Kita harus bersikap kritis terhadap tren-tren yang sedang berkembang pesat pada saat ini. Tren-tren yang sangat pesat berkembang antara lain: materialisme, konsumerisme, individualisme, pluralisme, fundamentalisme, dan sebagainya. Tren-tren pun dapat mempengaruhi kaum muda dalam usaha pencarian identitasnya. 

Tentang Ideologi 

1) Kita harus bersikap kritis terhadap ideologi, paham-paham, dan aliran yang beraneka ragam. Sebab, ideologi, paham-paham, dan aliran itu dapat melahirkan partai-partai politik atau sekte-sekte agama. Kaum muda sering dijadikan sasaran dari penyebaran slogan perluasan ideologi atau paham-paham dan aliran. 

Nasionalisme 
Nasionalisme dapat disebut semacam etno-sentrisme atau pandangan yang berpusat pada bangsa sendiri. Gejala seperti semangat nasionalisme, patriotisme, dsb. terdapat pada semua bangsa untuk menciptakan rasa setia kawan dari suatu kelompok yang senasib. 
Nasionalisme negatif atau nasionalisme sempit ialah nasionalisme yang mengagung-agungkan bangsa sendiri dan meremehkan/menghina bangsa lain. (Right or wrong my country). 
Nasionalisme positif adalah nasionalisme yang mempertahankan kemerdekaan dan kedaulatan bangsa, sekaligus menghormati kemerdekaan dan kedaulatan bangsa lain! 

Marxisme 
Sejarah bangsa kita pernah berkenalan dengan marxisme. Marxisme ialah suatu kumpulan ajaran yang menjadi dasar sosialisme dan komunisme. Tujuan utama dari marxisme ialah menghapuskan kapitalisme yang dianggap menyengsarakan dan menjajah kaum proletar, yaitu kaum buruh/rakyat kecil. 

Marxisme hanya percaya pada materi, tidak percaya pada dunia adikodrati, termasuk tidak percaya kepada Tuhan. Manusia merupakan satu unsur materi, suatu unsur yang sangat terbatas dalam proses perubahan keseluruhan umat manusia dan semesta alam. Maka, manusia dapat digunakan untuk tujuan marxisme itu. Jika manusia itu menjadi penghalang, maka ia dapat dilenyapkan. 

Yang kiranya positif dari ideologi marxisme ini ialah perjuangan dan opsinya kepada kaum buruh/proletar. Hanya sayangnya, ideologi marxisme ini menghalalkan segala cara. 

Komunisme 
Komunisme adalah anak dari marxisme. Komunisme mencitacitakan suatu sistem masyarakat di mana sarana-sarana produksi dilakukan berdasarkan asas bahwa setiap anggota masyarakat dapat memperoleh hasil sesuai dengan kebutuhan. Cita-cita komunisme ini praktis diperjuangkan dan dimonopoli oleh partai komunis. 

Teokrasi 
Teokrasi merupakan sebuah paham yang menghendaki agama menguasai masyarakat politis. Dalam hal ini, pemerintahan dianggap melakukan kehendak ilahi seperti diwahyukan menurut kepercayaan agama tertentu. Negara adalah negara agama. Segala bentuk teokrasi bersifat statis-konservatif, karena hukum agama dipandang tetap. 

Neo-Liberalisme 
Liberalisme adalah suatu paham dan gerakan yang memperjuangkan kebebasan dari penindasan apapun. 

Namun, kebebasan itu dapat memberi peluang bagi yang kuat untuk menekan yang lemah dan yang kaya memeras yang miskin. Oleh sebab itu, liberalisme di Indonesia sering berkonotasi negatif. 

Neo-Liberalisme ialah paham yang berkembang dewasa ini dalam hubungannya dengan globalisasi dan pasar bebas, yang akan dikuasai oleh mereka yang kuat secara ekonomis dan politis. Neo-Liberalisme mempunyai konotasi negatif untuk negara-negara yang sedang berkembang. 

Liberalisme memang memiliki segi positif dan negatif. 

Positif karena liberalisme memperjuangkan kebebasan dan hak asasi manusia.
Negatif karena liberalisme, terutama neo-liberalisme dapat menguasai pasar karena terjadi persaingan yang tidak seimbang. Neo-Liberalisme melahirkan sikap-sikap asosial. 
Perlu dicatat bahwa kebanyakan ideologi cenderung untuk bersikap fanatik! 

2) Ideologi dapat diartikan juga sebagai cara pandang seseorang terhadap sesuatu. Contoh: banyak remaja di kota besar yang tidak lagi menganggap “kesucian” badan (keperawanan dan keperjakaan), sebagai sesuatu yang penting dipertahankan sampai jenjang perkawinan. Atau, memandang ibadat bersama sebagai buang-buang waktu, dan sebagainya. 

Tren Yang Berkembang: 
Pada saat ini muncul banyak tren dan isu yang semakin lama semakin kuat, yang perlu kita sikapi dengan kritis. Tren-tren dan isu-isu yang aktual dan relevan untuk ditanggapi secara kritis adalah sebagai berikut. 

Budaya Materialistik dan Hedonistik 
Budaya materialistik dan hedonistik adalah hidup berlimpah materi dan berkesenangan. Manusia diukur dari apa yang dia miliki (rumah, mobil, dan sebagainya), bukan karakter. Pengorbanan, menanggung penderitaan, askese dan tapa, kesederhanaan dan kerelaan untuk melepaskan nikmat demi cita-cita luhur tidak mempunyai tempat dalam budaya materialistik dan hedonistik. Budaya materialistik dan hedonistik itu antara lain melahirkan sikap konsumerisme. 

Konsumerisme adalah sikap orang yang terdorong untuk terus-menerus menambahkan tingkat konsumsi, bukan karena konsumsi itu dibutuhkan, melainkan lebih demi status yang dianggap akan diperoleh melalui konsumsi tinggi itu. 

Individualisme 
Individualisme umumnya muncul akibat dari perkembangan sosial, ekonomi, politik, dan budaya yang sedang berlangsung. Sikap individualistik ini umumnya muncul pada masyarakat yang hidup di kota, terutama pada masyarakat kelas menengah ke atas. Sikap individualistik ini umumnya jarang terjadi pada kaum petani, nelayan, tukang, dan pedagang tradisional yang pekerjaannya tidak terpisahkan dari kehidupan keluarga. 

Gaya hidup modern memisahkan dengan tajam antara dua bidang itu. Hidup dalam keluarga dan pekerjaan semakin tidak ada sangkut-pautnya satu sama yang lain. Pagi hari ayah secara fisik dan emosional meninggalkan rumah dan keluarganya, selama delapan sampai sebelas jam, menyibukkan diri dengan pekerjaannya di kantor. Apabila pulang malam hari jika tidak membawa pekerjaan kantor, barulah tersedia waktunya bagi keluarganya. Dengan demikian, budaya kampung, ketetanggaan dan kekeluargaan dalam arti luas berubah. Orang menjadi individualistik dan privatistik. 

Pluralisme 
Pluralisme berarti bahwa orang dari berbagai suku, daerah, agama, keyakinan religius, dan politik bercampur-baur di kampung-kampung, di tempat kerja, kendaraan umum, di rumah sakit, dan di mana pun juga; tidak ada masyarakat yang tertutup dan tradisional murni.

Dengan kata lain, kontrol sosial terhadap pelaksanaan keagamaan dan hidup bermasyarakat rakyat makin berkurang. 

Lingkungan sosial semakin tidak menentukan lagi dalam hal agama, keyakinan, politik, atau kepercayaan. Orang menentukan sendiri keterlibatan dalam bidang-bidang tersebut. Dalam arti ini, agama menjadi urusan pribadi seseorang, bukan urusan masyarakat atau pemerintah. Orang tidak harus mengetahui dan tidak mempedulikan kepercayaan tetangganya. 

Fundamentalisme 
Gerakan fundamentalisme sekarang banyak muncul, baik di negara-negara berkembang maupun di negara-negara maju. Gerakan fundamentalisme ini umumnya muncul karena adanya suatu tekanan atau ketidakpuasan terhadap kelompok tertentu atau negara tertentu. Gerakan-gerakan fundamentalisme ini umumnya berkedok agama atau kepentingan politik tertentu, seperti yang kita alami di negeri kita saat ini. Selain fundamentalisme agama dan politik, ada juga fundamentalisme yang bersifat non-agama, misalnya sukuisme, nasionalisme, dan sebagainya. 
Isu Gender 

Pembebasan kaum perempuan akan menjadi pembebasan umat manusia seluruhnya menuju masyarakat baru, dengan paradigma sosial baru. Dalam proses itu kita pun harus menuju pola hubungan yang sederajat sebagai mitra, dengan sikap solider-partisipatif, polisentrik dan karena itu membentuk jaringan dengan banyak simpul yang saling berhubungan. 
Gerakan kaum perempuan akan menjadi gerakan pembebasan yang kuat dan terasa dampaknya dalam abad ke-21 ini. Gerakan ini akan merombak paradigma sosial lama menuju masyarakat baru yang lebih egalitarian. 

Isu Demokrasi, Otonomi, dan Hak Asasi 
Alam demokratis semakin dibutuhkan pada masa sekarang, bukan saja sebagai sikap politik, tetapi sebagai sikap budaya. Secara global, demokrasi menjadi penting bukan saja karena sosialisme telah runtuh, melainkan karena liberalisme politik seakan-akan menjadi satu-satunya paham yang sekarang berlaku. Sikap demokratis dibutuhkan terutama karena munculnya kekuatankekuatan baru yang dibawa oleh globalisasi yang telah menimbulkan berbagai perubahan yang akan menjadi produktif jika ditanggapi secara demokratis. Isu demokrasi, otonomi, dan hak asasi akan semakin kuat dalam millennium ini. 

Isu Lingkungan Hidup 
Pada tahun-tahun terakhir ini, isu lingkungan hidup menjadi sangat sentral di planet ini. Lingkungan hidup sangat erat hubungannya dengan mutu dan kelangsungan hidup manusia. Sikap acuh tak acuh terhadap lingkungan hidup dianggap sebagai perbuatan yang konyol dan bunuh diri. 

Budaya modern yang individualistik, rasionalistik, dan eksploitatif mulai sedikit digeser oleh budaya pasca modern yang lebih sosial dan akrab dengan alam/lingkungan hidup. 

Mendalami Ajaran Kitab Suci tentang Perlunya Bersikap Kritis Terhadap Gaya Hidup, Trend dan Ideologi yang Berkembang 
Luk 4: 1-13, Mat 13: 1-36

Yesus Kritis Terhadap Tawaran-Tawaran Keduniaan

Sesudah Yesus berpuasa selama empat puluh hari di padang gurun, secara fisik Yesus lemah. Kondisi “lemah” tersebut dimanfaatkan oleh iblis untuk mencobai Yesus. Ia mencobai Yesus dengan menawarkan hal-hal yang menggiurkan (lihat Lukas 4: 1-13). 
Pertama : Roti, rezeki, jaminan sosial ekonomi. 
Kedua : Kedudukan dan kekuasaan. 
Ketiga : Kesenangan dan kenikmatan. 

Godaan-godaan iblis bertujuan agar Yesus menggagalkan pilihan (opsi) mewartakan Kerajaan Allah, dan supaya Yesus menyibukkan diri dengan jaminan sosial, ekonomi, kekuasaan, dan kesenangan. Yesus menolaknya, bukan karena hal-hal itu jelek, tetapi karena ada hal yang lebih pokok, yaitu Kerajaan Allah! 

Yesus Bersikap Kritis Terhadap Ideologi Dan Aliran Pada Zaman-Nya
Waktu Yesus hidup di Palestina telah ada berbagai kelompok dan aliran, misalnya: 

FARISI (dari kata Ibrani Pharesees = ‘terpisah’) Kelompok Farisi adalah kelompok orang-orang Yahudi saleh yang menerima hukum tertulis dan lisan dan dengan amat teliti menaati berbagai macam kewajiban. Mereka mengecam Yesus karena Ia mengampuni dosa, melanggar peraturan Sabat, dan bergaul dengan pendosa. Sebaliknya, Yesus melawan sikap legalisme lahirilah dan formalisme pembenaran diri mereka. Mereka bekerja sama dengan para Saduki (lawan mereka) untuk membunuh Yesus. 

SADUKI Kelompok Saduki merupakan salah satu kelompok politik Palestina zaman Yesus. Mereka mempunyai pengaruh besar dalam bidang politik. Mereka berhubungan erat dengan para Imam Agung, kaum ningrat, dan golongan konservatif. Dalam hal agama, mereka menolak tradisi lisan, kebangkitan orang mati, dan adanya malaikat. Mereka menentang Yesus dan bersama para Farisi mengusahakan penyaliban Yesus, karena Yesus dianggap mengancam kedudukan politis dan kepentingan mereka. 

ESENI (mungkin berasal dari kata Ibrani Kasidim =’orang-orang setia’) Kelompok Eseni ini menganggap diri sebagai orang terpilih dari antara orang-orang saleh. Mereka hidup bermatiraga melaksanakan Hukum Taurat dengan sangat ketat, hidup berkelompok tanpa milik pribadi, dan sebagian dari mereka tidak menikah. Mereka hidup demikian karena yakin bahwa mereka akan bangkit dan hidup pada akhir zaman, waktu di mana hampir semua orang menjadi murtad termasuk pimpinan bangsa dan imam-imam Yahudi. 

ZELOT Kelompok Zelot adalah pejuang-pejuang kemerdekaan Yahudi melawan orang-orang Roma pada awal abad pertama Masehi dan dalam perang yang berakhir dengan kehancuran Yerusalem pada tahun 70 Masehi. 

Yesus ternyata tidak memilih salah satu dari kelompok-kelompok atau aliran-aliran tersebut di atas. Yesus memilih aliran dan gerakan-Nya sendiri, yaitu mewartakan dan memberi kesaksian tentang Kerajaan Allah. Dalam rangka mewartakan dan memberi kesaksian tentang Kerajaan Allah, Yesus menyapa orang-orang miskin. 

Walaupun ia berasal dari kelompok kelas menengah, Yesus secara sosial bercampur dengan orang-orang yang paling rendah dan menyamakan diriNya dengan mereka. Mereka adalah orang miskin, buta, lumpuh, kusta, kerasukan setan (dikuasai oleh roh najis), pendosa, pelacur, pemungut cukai, rakyat gembel yang buta hukum, lintah darat, dan penjudi. Mereka ini dianggap oleh orang Farisi sebagai sampah masyarakat yang harus dibuang, tidak berguna atau najis. Mereka harus disingkirkan dari pergaulan masyarakat, karena menyimpang dari hukum dan warisan adat-istiadat. 

Bersikap kritis terhadap media dan ideologi tanpa tanggung jawab dan dasar yang kuat akan menyebabkan kita hanya ingin tampil beda saja. Sebagai murid Kristus,sikap kritis harus berdasar dan dapat dipertanggung jawabkan. Kita harus mengkritisi berbagai media, cara pandang, dan ideologi yang mempengaruhi kita agar kita menemukan kehidupan yang autentik (dapat dipercaya) atau yang sejati. 

Budaya modern dengan berbagai teknologi, gaya hidup, dan ideologi cenderung tidak lagi memusatkan nilai iman dan hanya sedikit memberi dukungan untuk menghayati iman dalam kehidupan sehari-hari. Bersikap kritis pada media dan berbagai ideologi menunjukkan bahwa kita mempunyai sikap iman. 

Sikap iman merupakan bentuk sikap bagaimana kita menerima Allah dan kasih Allah yang diwahyukan kepada kita dalam pribadi Yesus melalui komitmen-komitmen kita. 
Sikap kritis terhadap ideologi yang ada, semestinya membuat kita mampu bertahan dan berkembang sebagai seorang Kristen sejati di tengahtengah dunia ini. 

Konsekuensi dan dasar dari hidup kritis adalah berani menyatukan diri ke dalam perkembangan dunia, dan berani melepas apa yang “nikmat” dan menjadi murid Kristus. 

Sikap kritis mempunyai 3 proses dasar: 

1. Berusaha memusatkan diri pada perkembangan nilai-nilai atau cita-cita yang kita anggap luhur.
2. Berusaha memalingkan diri dari keegoisan dan mengarahkan segala perhatian kepada kepentingan bersama. 
3. Membuka perhatian kepada hidup yang lebih sempurna, yaitu ke arah hidup Allah sendiri. 

KRITIS & TANGGUNG JAWAB PENGARUH MEDIA MASSA

BERSIKAP KRITIS DAN BERTANGGUNG JAWAB 
TERHADAP PENGARUH MEDIA MASSA

Media komunikasi dewasa ini mengalami perkembangan yang sangat pesat. Sebagai dampaknya, informasi yang masuk ke dalam kehidupan sehari-hari tidak terbendung. Persoalannya, informasi itu ada yang bersifat membangun, tetapi ada juga yang bersifat merugikan. Pada umumnya remaja bersifat polos dalam mengadopsi kehadiran media. Mereka menelan begitu saja apa yang disediakan dan tidak mencernanya. Sehubungan dengan itu remaja perlu mendapatkan bimbingan supaya mereka dapat bersikap kritis dalam memilih media dan mampu mengolahnya menjadi nutrisi untuk meningkatkan kualitas hidup mereka. 

Kita dituntut untuk bersikap kritis atas segala tawaran yang ada dan informasi yang kita peroleh. Bersikap kritis tidak berarti menolak mentahmentah tentang media, melainkan kita mencoba menyaringnya dan mampu mempertanggungjawabkan apa yang kita pilih dan kita percaya. Sikap kritis mengandaikan kedewasaan berpikir, mampu mempertimbangkan baik-buruk sesuatu hal, selektif dan mampu membuat skala prioritas dalam menentukan pilihan-pilihan hidup. Dengan demikian, kita akan dapat menempatkan media massa pada tempat yang semestinya bagi perkembangan diri kita. 

Gereja melalui Inter Mirifica art 9 menegaskan kewajiban-kewajiban khusus mengikat semua penerima, yakni para pembaca, pemirsa dan pendengar, yang atas pilihan pribadi dan bebas menampung informasi-informasi yang disiarkan oleh media itu. Sebab cara memilih yang tepat meminta supaya mereka mendukung sepenuhnya segala sesuatu yang menampilkan nilai keutamaan dan pengetahuan. Sebaliknya hendaklah mereka menghindari apa saja, yang bagi diri mereka sendiri menyebabkan atau memungkinkan timbulnya kerugian rohani, atau yang dapat membahayakan sesama karena contoh yang buruk, kebanyakan terjadi dengan membayar iuran kepada para penyelenggara, yang memanfaatkan media itu karena alasan-alasan ekonomi semata-mata. 

Maka supaya para penerima itu mematuhi hukum moral, hendaknya mereka jangan melalaikan kewajiban, untuk selalu mencari informasi tentang penilaianpenilaian mengenai semuanya itu yang diberikan oleh instansi-instansi yang berwenang, dan untuk mengikutinya sebagai pedoman menurut suara hati yang cermat. Untuk lebih mudah melawan dampak-dampak yang merugikan, dan mengikuti sepenuhnya pengaruh-pengaruh yang baik, hendaknya mereka berusaha mengarahkan dan membina suara hati mereka. 

Selanjutnya dalam artikel 10 ditegaskan pula bahwa, hendaknya kalangan kaum muda berusaha, supaya dalam memakai upaya-upaya komunikasi sosial mereka belajar mengendalikan diri dan menjaga ketertiban. Kecuali itu hendaklah mereka berusaha memahami secara lebih mendalam apa yang mereka lihat, dengar, dan baca. Hendaklah itu mereka bicarakan dengan para pendidik dan para ahli, dan dengan demikian mereka belajar memberi penilaian yang saksama. Sedangkan para orang tua hendaknya menyadari bahwa kewajiban mereka adalah menjaga dengan sungguh sungguh supaya tayangan-tayangan, terbitan-terbitan tercetak, dan lain sebagainya, yang bertentangan dengan iman serta tata susila, jangan sampai memasuki ambang pintu rumah tangga, dan jangan sampai anakanak menjumpainya di luar lingkup keluarga. 

Dokumen ini secara khusus menerima kekuatan pengaruh media bagi masyarakat manusia secara penuh. 

Pandangan Gereja Tentang Media Komunikasi Sosial
Inter Mirifica (Dekrit tentang komunikasi Sosial)

Artikel 9 (Kewajiban-kewajiban para pemakai media komunikasi sosial) 

Kewajiban-kewajiban khusus mengikat semua penerima, yakni para pembaca, pemirsa dan pendengar, yang atas pilihan pribadi dan bebas menampung informasi-informasi yang disiarkan oleh media itu. Sebab cara memilih yang tepat meminta, supaya mereka mendukung sepenuhnya segala sesuatu yang menampilkan nilai keutamaan, ilmu-pengetahuan dan teknologi. Sebaliknya hendaklah mereka menghindari apa saja, yang bagi diri mereka sendiri menyebabkan atau memungkinkan timbulnya kerugian rohani, atau yang dapat membahayakan sesama karena contoh yang buruk, atau menghalang-halangi tersebarnya informasi yang baik dan mendukung tersiarnya informasi yang buruk. Hal itu kebanyakan terjadi dengan membayar iuran kepada para penyelenggara, yang memanfaatkan media itu karena alasan-alasan ekonomi semata-mata.

Maka supaya para penerima itu mematuhi hukum moral, hendaknya mereka jangan melalaikan kewajiban, untuk pada waktunya mencari informasi tentang penilaian-penilaian yang mengenai semuanya itu diberikan oleh instansi-instansi yang berwenang, dan untuk mengikutinya sebagai pedoman menurut suara hati yang cermat. Untuk lebih mudah melawan dampakdampak yang merugikan, dan mengikuti sepenuhnya pengaruh-pengaruh yang baik, hendaknya mereka berusaha mengarahkan dan membina suara hati mereka dengan upaya-upaya yang cocok. 

Artikel 10. (Kewajiban-kewajiban kaum muda dan para orang tua) 

Hendaknya para penerima, terutama dikalangan kaum muda berusaha, supaya dalam memakai upaya-upaya komunikasi sosial mereka belajar mengendalikan diri dan menjaga ketertiban. Kecuali itu hendaklah mereka berusaha memahami secara lebih mendalam apa yang mereka lihat, dengar dan baca. Hendaklah itu mereka percakapkan dengan para pendidik dan para ahli, dan dengan demikian mereka belajar memberi penilaian yang saksama. Sedangkan para orang-tua hendaknya menyadari sebagai kewajiban mereka: menjaga dengan sungguh sungguh, supaya tayangan-tayangan, terbitanterbitan tercetak dan lain sebagainya, yang bertentangan dengan iman serta tata susila, jangan sampai memasuki ambang pintu rumah tangga, dan jangan sampai anak-anak menjumpainya di luar lingkup keluarga. 


Beberapa Gagasan Pokok 

Media berasal dari bahasa Latin merupakan bentuk jamak dari medium secara harafiah berarti perantara atau pengantar dalam hal ini untuk menyalurkan pesan atau informasi. 
Kita sekarang sedang mengalami revolusi informasi. Karena berbagai kemajuan teknologi media, kita dibanjiri oleh arus informasi yang melimpah ruah dan tidak henti, hampir tanpa saringan. Informasiinformasi itu dapat berupa informasi yang baik dan membangun, tetapi juga dapat berupa informasi yang buruk dan merusak. 

Kita harus memiliki sikap kritis terhadap semua informasi yang kita terima. Sikap kritis berarti dapat memilah-milah mana yang benar dan mana yang salah; mana yang baik dan mana yang buruk; mana yang positif dan mana yang negatif. Jadi, kita harus bersikap kritis terhadap pengaruh positif dan negatif dari media yang menyuguhkan berbagai informasi. 

Pengaruh positif dari media dapat terjadi karena: 

Teknologi media mendekatkan manusia satu sama lain. Ia dapat mendekatkan pikiran dan relasi kita. Pikiran dan relasi kita menjadi lebih terbuka kepada orang lain, kepada bangsa lain, budaya lain, dan sebagainya.

Teknologi media dapat membuat kita terlibat pada peristiwa di belahan bumi yang lain. Kita terlibat pada gempa bumi di Aljazair, pada SARS di Cina, pada Piala Dunia, dan sebagainya. 
Teknologi media menyajikan mutu dan pola pemberitaan yang semakin menarik. Pemberitaan lewat satelit dan jaringan internet yang makin semarak. 

Teknologi media dapat menyajikan gambar dan suara yang lebih canggih, seperti musik stereo, gambar tiga dimensi, dan sebagainya. 

Pengaruh dari pemilik atau sponsor media 

1) Manusia, entah pemilik media, entah sponsor, entah lembaga negara, entah masyarakat dan Gereja, dapat menggunakan media untuk menciptakan perhatian dan keprihatinan umum tentang suatu masalah di belahan bumi, seperti AIDS, narkotika, pembunuhan massal oleh suatu pemerintahan otoriter, dan sebagainya. Ia membantu menciptakan keprihatinan. 
2) Media dapat digunakan untuk memberi informasi membentuk, opini umum yang baik dan juga untuk mendidik. Media dapat digunakan untuk membela keadilan dan kebenaran, dan sebagainya. 3) Media dapat digunakan untuk hiburan. Misalnya, hiburan musik, tari, sinetron, dan sebagainya. 

Pengaruh yang tidak disadari, yakni
1) Sadar tidak sadar, media sudah membentuk budaya baru. Kaum muda adalah massa yang terlibat penuh dalam budaya baru ini. 
2) Sadar tidak sadar, media telah mengubah cara pikir kita tentang hidup, tentang kebudayaan, dan sebagainya. Jendela dunia terbuka lebar bagi kita. 
Pengaruh Negatif dari Media 
Pengaruh negatif yang disebabkan dari teknologi media sendiri, antara lain: 
1) Media telah membangun kerajaan dan kekuasaan yang sangat kuat. Siapa yang memiliki media dia yang kuat dan berkuasa. Media Dunia Utara menguasai Dunia Selatan. Kota menguasai desa. Pihak yang kuat dan kaya menguasai yang lemah dan miskin. 
2) Media menciptakan budaya baru yang gemerlap, budaya asli dan lokal perlahan-lahan tersingkir. 

Pengaruh negatif yang disebabkan oleh pemilik dan sponsor media, yakni: 
1) Media adalah bisnis. Supaya bisnis dapat laku, maka digalakkan semangat materialisme, konsumerisme dan hedonisme. 
2) Lewat media dapat dibangun persepsi yang salah tentang kesejahteraan. Kesejahteraan berarti memiliki materi sebanyakbanyaknya. Manusia tidak lagi dinilai dari karakter dan dedikasi, tetapi dari apa yang dia miliki (rumah, mobil, uang, dan sebagainya.) seperti yang dipromosikan pada iklan-iklan di media. 
3) Lewat media dapat diciptakan stereotip tentang tokoh kecantikan, mode, dan sebagainya. yang akan ditiru oleh khalayak ramai, misalnya mode rambut, mode pakaian, dan sebagainya. yang begitu cepat ditiru. 
4) Lewat media dapat diciptakan sensasi tantangan seks, kekerasan, dan horor yang mungkin sangat disenangi oleh penonton. 
5) Pemilik, penguasa, dan sponsor media dapat melakukan berbagai rekayasa dan trik demi kepentingan bisnis dan politiknya. 

Pengaruh negatif yang tidak disengaja 
1) Jadwal hidup dan kerja kita menjadi tidak teratur. Banyak waktu tersedot untuk menonton atau mendengar siaran media. Komunikasi antarpribadi dalam keluarga berkurang. 
2) Kecanduan dan keterlibatan pada kekerasan dan seks bebas sering ada hubungannya dengan siaran TV atau chatting di internet atau HP (SMS). 
3) Arus urbanisasi sering disebabkan oleh tayangan yang glamour tentang kehidupan kota 

Oleh karena itu, kita harus tetap kritis terhadap media dan pandai-pandai menggunakan media untuk kepentingan kita dan masyarakat/umat