Selamat Datang

Selamat Datang di Blog ini bersama R. Slamet Widiantono ------**------ TUHAN MEMBERKATI -----* KASIH ITU MEMBERIKAN DIRI BAGI SESAMA -----* JANGAN LUPA BAHAGIA -----* TERUS BERPIKIR POSITIF -----* SALAM DOA -----* slammy

Sunday, August 30, 2026

MODUL AJAR KELAS IX

MODUL AJAR PENDIDIKAN AGAMA KATOLIK DAN BUDI PEKERTI

Bab 1 — Sakramen Perkawinan

A. Identitas Modul

Komponen Keterangan

Satuan Pendidikan SMP Negeri 2 Pandak

Mata Pelajaran Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti

Fase D

Kelas IX

Semester 1

Materi Sakramen Perkawinan

Tahun Pelajaran 2026/2027

Alokasi Waktu Disesuaikan dengan struktur kurikulum sekolah

Model Pembelajaran Problem Based Learning, diskusi, refleksi

Pendekatan Pembelajaran mendalam dan kontekstual

B. Capaian Pembelajaran


Pada akhir Fase D, peserta didik diharapkan semakin mampu memahami dirinya sebagai pribadi yang bermartabat, mengenal dan meneladani Yesus Kristus, memahami kehidupan Gereja, serta mewujudkan iman Katolik dalam kehidupan pribadi, keluarga, Gereja, masyarakat, dan lingkungan.

Pada materi ini peserta didik diarahkan untuk memahami perkawinan sebagai panggilan hidup dan Sakramen dalam Gereja Katolik, serta menyadari pentingnya kasih, kesetiaan, tanggung jawab, dan pengorbanan dalam membangun keluarga.

C. Tujuan Pembelajaran

Setelah mengikuti pembelajaran, peserta didik mampu:

Menjelaskan pengertian perkawinan menurut pandangan Katolik.

Menjelaskan perkawinan sebagai panggilan hidup.

Menjelaskan makna Sakramen Perkawinan.

Mengidentifikasi sifat-sifat perkawinan Katolik.

Menjelaskan tanggung jawab suami dan istri dalam keluarga.

Menjelaskan peran keluarga sebagai tempat bertumbuh dalam kasih.

Menunjukkan sikap menghargai kehidupan keluarga.

Merefleksikan persiapan diri untuk membangun keluarga yang bahagia dan bertanggung jawab di masa depan.

D. Kompetensi Awal

Sebelum mempelajari materi ini, peserta didik diharapkan telah memahami:

arti keluarga;

peran orang tua dalam keluarga;

pengalaman hidup bersama keluarga;

pentingnya kasih dan tanggung jawab;

ajaran Yesus tentang kasih.


Pertanyaan diagnostik:


Apa arti keluarga bagi kamu?

Apa yang membuat sebuah keluarga menjadi bahagia?

Mengapa dalam keluarga diperlukan kesetiaan?

Menurut kamu, apakah menikah hanya berarti hidup bersama? Mengapa?

E. Profil Pelajar/Profil Lulusan yang Dikembangkan


Pembelajaran mengembangkan beberapa karakter utama:


Keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa

Kemandirian

Kolaborasi

Komunikasi

Penalaran kritis

Kreativitas

Kewargaan


Nilai karakter yang ditekankan:


kasih;

kesetiaan;

tanggung jawab;

pengorbanan;

penghormatan terhadap martabat manusia;

kepedulian;

kejujuran.

F. Pemahaman Bermakna


Peserta didik memahami bahwa perkawinan dalam Gereja Katolik bukan sekadar hubungan antara laki-laki dan perempuan, tetapi merupakan panggilan hidup dan tanda kasih Allah.


Perkawinan membutuhkan:


kasih + kesetiaan + tanggung jawab + pengorbanan + keterbukaan terhadap kehidupan.


Peserta didik juga memahami bahwa persiapan membangun keluarga dimulai sejak remaja dengan belajar:


menghargai diri sendiri;

menghargai orang lain;

bertanggung jawab;

mengendalikan diri;

berkomunikasi dengan baik;

menyelesaikan masalah secara damai.

G. Pertanyaan Pemantik


Guru dapat mengawali pembelajaran dengan pertanyaan:


“Menurut kalian, apa yang membuat sebuah keluarga dapat bertahan dalam keadaan sulit?”


Kemudian dilanjutkan:


Apakah cinta saja cukup untuk membangun keluarga?

Mengapa perkawinan membutuhkan kesetiaan?

Mengapa Gereja memandang perkawinan sebagai sakramen?

Bagaimana seorang remaja dapat mempersiapkan diri untuk kehidupan berkeluarga?

Apa hubungan antara keluarga dan kasih Allah?

H. Materi Pembelajaran

1. Pengertian Perkawinan


Perkawinan adalah persekutuan hidup antara seorang laki-laki dan seorang perempuan yang dibangun atas dasar kasih, kesetiaan, tanggung jawab, dan komitmen untuk hidup bersama.


Dalam iman Katolik, perkawinan bukan sekadar kontrak atau kesepakatan sosial. Perkawinan merupakan perjanjian hidup yang melibatkan Allah.


2. Perkawinan dalam Kitab Suci

Kejadian 2:18


“Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja.”


Ayat tersebut menunjukkan bahwa manusia diciptakan untuk hidup dalam relasi dan persekutuan dengan orang lain.


Kejadian 2:24


Manusia dipanggil untuk meninggalkan orang tua, bersatu dengan pasangannya, dan menjadi satu.


Matius 19:4–6


Yesus menegaskan kesatuan dan kesetiaan dalam perkawinan.


Dari teks tersebut dapat dipahami bahwa perkawinan merupakan persekutuan yang memiliki nilai luhur dan harus dijalani dengan kesetiaan.


3. Perkawinan sebagai Sakramen


Dalam Gereja Katolik, perkawinan antara orang-orang yang telah dibaptis merupakan Sakramen Perkawinan.


Melalui perkawinan, suami dan istri dipanggil untuk menjadi tanda nyata kasih Allah.


Dengan demikian, pasangan suami-istri tidak hanya saling mencintai, tetapi juga dipanggil untuk:


saling membantu;

saling menguduskan;

membangun keluarga;

mendidik anak;

menjadi saksi kasih Kristus.

4. Sifat-Sifat Perkawinan Katolik

a. Monogami


Perkawinan Katolik berlangsung antara seorang laki-laki dan seorang perempuan.


b. Kesatuan


Suami dan istri dipanggil untuk membangun kehidupan bersama sebagai satu keluarga.


c. Kesetiaan


Suami dan istri berkomitmen untuk setia dalam suka maupun duka.


d. Tidak terceraikan


Perkawinan Katolik dipahami sebagai ikatan yang pada hakikatnya tidak dimaksudkan untuk diputuskan secara sepihak.


e. Terbuka terhadap kehidupan


Perkawinan memiliki keterarahan pada kehidupan dan pendidikan anak.


5. Tanggung Jawab Suami dan Istri


Dalam keluarga, suami dan istri mempunyai tanggung jawab untuk:


saling mengasihi;

saling menghormati;

saling membantu;

berkomunikasi;

mengambil keputusan bersama;

menjaga kesetiaan;

mendidik anak;

membangun kehidupan iman keluarga.


Keluarga bukan tempat untuk mendominasi atau melakukan kekerasan. Suami dan istri dipanggil untuk saling menghormati martabat masing-masing.


6. Keluarga sebagai Gereja Rumah Tangga


Keluarga Katolik dapat menjadi tempat pertama seseorang:


mengenal Allah;

belajar berdoa;

mengenal kasih;

belajar mengampuni;

belajar bertanggung jawab;

belajar menghargai sesama.


Karena itu keluarga sering disebut sebagai Gereja rumah tangga.


I. Kegiatan Pembelajaran

Pertemuan 1 — Memahami Arti Keluarga dan Perkawinan

Pendahuluan


Guru:


memberi salam;

mengajak siswa berdoa;

mengecek kehadiran;

menyampaikan tujuan pembelajaran;

memberikan pertanyaan pemantik.


Siswa:


berdoa;

menjawab pertanyaan;

menyampaikan pengalaman tentang keluarga.

Kegiatan inti


Guru menampilkan gambar/video singkat tentang kehidupan keluarga.


Siswa diminta mengamati kemudian menjawab:


“Apa yang membuat keluarga dalam gambar tersebut terlihat bahagia?”


Siswa berdiskusi dalam kelompok.


Setiap kelompok menuliskan:


ciri keluarga bahagia;

masalah yang dapat terjadi dalam keluarga;

sikap yang dibutuhkan agar keluarga tetap harmonis.


Kelompok mempresentasikan hasil diskusi.


Guru memberikan penguatan tentang pengertian keluarga dan perkawinan.


Penutup


Siswa menulis satu kalimat:


“Keluarga adalah .... bagi saya.”


Guru mengajak siswa berdoa.


Pertemuan 2 — Sakramen Perkawinan

Pendahuluan


Guru mengulas materi sebelumnya.


Pertanyaan:


“Mengapa Gereja memberikan perhatian khusus terhadap perkawinan?”


Kegiatan inti


Siswa membaca Matius 19:4–6.


Kemudian menjawab:


Apa yang dikatakan Yesus mengenai perkawinan?

Apa arti “keduanya menjadi satu”?

Mengapa kesetiaan penting dalam perkawinan?


Kelompok kemudian membuat peta konsep:


SAKRAMEN PERKAWINAN


→ Kasih

→ Kesatuan

→ Kesetiaan

→ Tanggung jawab

→ Keterbukaan terhadap kehidupan

→ Pelayanan


Setiap kelompok mempresentasikan hasilnya.


Penutup


Guru memberikan kesimpulan.


Siswa melakukan refleksi:


“Nilai apa dari perkawinan Katolik yang perlu saya mulai latih sejak sekarang?”


Pertemuan 3 — Mempersiapkan Masa Depan

Kegiatan inti


Guru memberikan kasus:


Kasus:

Andi dan Maria sering melihat konflik dalam keluarga mereka. Mereka menyimpulkan bahwa membangun keluarga ternyata tidak mudah. Mereka bertanya-tanya, “Bagaimana kita dapat mempersiapkan diri agar suatu hari nanti mampu membangun keluarga yang baik?”


Siswa berdiskusi.


Pertanyaan

Apa yang harus dipersiapkan sebelum menikah?

Mengapa kedewasaan diperlukan dalam perkawinan?

Mengapa kemampuan berkomunikasi penting?

Mengapa pengendalian diri diperlukan?

Bagaimana iman membantu seseorang dalam kehidupan keluarga?


Kelompok membuat “10 Sikap yang Perlu Saya Latih Sejak Remaja untuk Membangun Keluarga yang Baik.”


J. LKPD

Lembar Kerja Peserta Didik


Nama: ........................................

Kelas: ........................................

Kelompok: ....................................


Aktivitas 1 — Mengenal Keluarga


Lengkapi tabel berikut.


Pertanyaan Jawaban

Apa arti keluarga bagi saya?

Hal yang paling saya syukuri dari keluarga saya

Nilai yang saya pelajari dari keluarga

Tantangan dalam kehidupan keluarga

Sikap saya untuk membantu keluarga

Aktivitas 2 — Analisis Kitab Suci


Bacalah Matius 19:4–6.


Jawablah:


Apa yang diajarkan Yesus mengenai perkawinan?

Mengapa kesatuan penting dalam perkawinan?

Apa hubungan kasih dan kesetiaan?

Apa yang dapat dipelajari remaja dari ajaran tersebut?

Aktivitas 3 — Rencana Pengembangan Diri


Tuliskan lima sikap yang akan kamu latih mulai sekarang.


Sikap Tindakan Nyata

Tanggung jawab

Kesetiaan

Pengendalian diri

Komunikasi

Kasih

K. Asesmen Diagnostik

Pertanyaan

Apa yang kamu pahami tentang perkawinan?

Apa perbedaan keluarga dan perkawinan?

Mengapa keluarga membutuhkan kasih?

Apa arti setia menurutmu?


Tujuan: mengetahui pemahaman awal peserta didik.


L. Asesmen Formatif


Guru mengamati:


Aspek Mulai Berkembang Berkembang Sangat Berkembang

Keaktifan berdiskusi

Kemampuan mengemukakan pendapat

Kerja sama

Menghargai pendapat

Pemahaman materi

Refleksi iman

M. Asesmen Sumatif

Pilihan Ganda


1. Dalam iman Katolik, perkawinan merupakan ....


A. perjanjian sementara

B. sekadar hubungan sosial

C. panggilan hidup dan sakramen

D. hubungan berdasarkan kepentingan


Jawaban: C


2. Salah satu sifat penting perkawinan Katolik adalah ....


A. persaingan

B. kesetiaan

C. kebebasan tanpa batas

D. kepentingan pribadi


Jawaban: B


3. Dasar Kitab Suci yang berbicara mengenai perkawinan terdapat dalam ....


A. Matius 19:4–6

B. Mazmur 23

C. Kisah Para Rasul 2:1–4

D. Wahyu 21:1–5


Jawaban: A


4. Keluarga disebut Gereja rumah tangga karena ....


A. keluarga merupakan gedung Gereja

B. keluarga menjadi tempat pertama kehidupan iman

C. semua keluarga memiliki imam

D. keluarga menggantikan tugas Gereja


Jawaban: B


5. Sikap yang perlu dikembangkan dalam keluarga adalah ....


A. egoisme

B. kesombongan

C. kasih dan tanggung jawab

D. persaingan


Jawaban: C


Soal Uraian

Jelaskan pengertian Sakramen Perkawinan!

Mengapa kesetiaan penting dalam perkawinan?

Sebutkan empat tanggung jawab suami dan istri!

Jelaskan arti keluarga sebagai Gereja rumah tangga!

Bagaimana seorang remaja dapat mempersiapkan diri untuk kehidupan berkeluarga?

Pedoman Jawaban


1. Sakramen Perkawinan adalah sakramen yang menyatukan laki-laki dan perempuan yang telah dibaptis dalam perjanjian hidup yang menjadi tanda kasih Allah.


2. Kesetiaan diperlukan agar suami dan istri mampu mempertahankan komitmen dan membangun kehidupan bersama dalam suka maupun duka.


3. Misalnya saling mengasihi, menghormati, membantu, mendidik anak, menjaga kesetiaan, dan membangun kehidupan iman.


4. Keluarga disebut Gereja rumah tangga karena keluarga menjadi tempat pertama seseorang mengenal Allah, berdoa, belajar kasih, mengampuni, dan hidup sebagai orang beriman.


5. Dengan belajar bertanggung jawab, mengendalikan diri, menghargai orang lain, berkomunikasi dengan baik, setia, jujur, dan mengembangkan kehidupan iman.


N. Rubrik Penilaian Projek

Projek: “Aku Mempersiapkan Masa Depanku”


Peserta didik membuat poster/peta konsep tentang persiapan membangun keluarga yang baik.


Kriteria Skor 1 Skor 2 Skor 3 Skor 4

Isi Kurang Cukup Baik Sangat baik

Kesesuaian dengan iman Katolik Kurang Cukup Baik Sangat baik

Kreativitas Kurang Cukup Baik Sangat baik

Kerja sama Kurang Cukup Baik Sangat baik

Presentasi Kurang Cukup Baik Sangat baik


Skor maksimal: 20


Nilai:


Skor diperoleh ÷ 20 × 100


O. Remedial


Peserta didik yang belum mencapai tujuan pembelajaran diberikan:


pembelajaran ulang dengan bahasa lebih sederhana;

membaca kembali materi;

bimbingan kelompok kecil;

pertanyaan sederhana tentang makna perkawinan;

tugas membuat rangkuman.

Tugas remedial


Jelaskan dengan bahasamu sendiri:


Apa arti keluarga?

Apa arti perkawinan?

Mengapa perkawinan membutuhkan kesetiaan?

Apa yang dapat kamu lakukan untuk membangun keluarga yang baik?

P. Pengayaan


Peserta didik yang sudah mencapai tujuan pembelajaran diberikan tugas:


“Wawancara Tokoh Keluarga”


Mewawancarai orang tua/wali atau pasangan suami-istri mengenai:


arti perkawinan;

pengalaman membangun keluarga;

tantangan dalam keluarga;

cara menyelesaikan konflik;

pentingnya doa;

nilai yang ingin diwariskan kepada anak.


Hasil wawancara dibuat menjadi laporan 1–2 halaman.


Q. Refleksi Peserta Didik


Berilah tanda ✓.


Pernyataan Ya Belum

Saya memahami arti Sakramen Perkawinan

Saya memahami pentingnya kesetiaan

Saya memahami tanggung jawab dalam keluarga

Saya mampu menghargai keluarga saya

Saya mengetahui cara mempersiapkan diri sejak remaja

Refleksi tertulis


Lengkapi:


Hal yang paling saya pahami hari ini adalah ....


Hal yang ingin saya perbaiki dalam diri saya adalah ....


Mulai hari ini saya akan ....


R. Refleksi Guru


Setelah pembelajaran, guru dapat menjawab:


Apakah peserta didik memahami makna Sakramen Perkawinan?

Apakah peserta didik aktif dalam diskusi?

Apakah kegiatan pembelajaran relevan dengan kehidupan mereka?

Peserta didik mana yang membutuhkan pendampingan?

Apa yang perlu diperbaiki pada pembelajaran berikutnya?

S. Sumber Belajar

Kitab Suci Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru.

Dokumen dan ajaran Gereja Katolik mengenai perkawinan.

Buku Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti SMP Kelas IX yang digunakan sekolah.

Lingkungan keluarga dan masyarakat sebagai sumber belajar kontekstual.

T. Penutup Pembelajaran


Guru dapat mengakhiri materi dengan pesan:


“Keluarga yang baik tidak dibangun hanya ketika seseorang sudah menikah. Keluarga yang baik mulai dipersiapkan sejak sekarang, melalui belajar mengasihi, menghormati, bertanggung jawab, setia, mengampuni, dan mengandalkan Tuhan.”


Kemudian dilanjutkan dengan doa penutup.


Rangkaian Modul Berikutnya


Agar menjadi modul ajar lengkap kelas IX selama satu tahun, susunannya dapat dilanjutkan menjadi:


Modul 1 — Sakramen Perkawinan

Modul 2 — Sakramen Tahbisan

Modul 3 — Cita-Cita dan Masa Depan

Modul 4 — Kebebasan sebagai Anak-Anak Allah

Modul 5 — Sabda Bahagia

Modul 6 — Martabat Manusia dan Budaya Kehidupan

Modul 7 — Keadilan dan Kejujuran

Modul 8 — Bersahabat dengan Alam

Modul 9 — Hidup Bersama dalam Keberagaman


Jika perangkat ini akan benar-benar dipakai untuk administrasi guru, saya sarankan tahap berikutnya saya buatkan paket lengkap 9 modul tersebut sekaligus dalam format yang lebih formal, termasuk CP–TP–ATP, KKTP, prota, promes, jadwal JP, LKPD setiap bab, kisi-kisi soal, 50 soal sumatif + kunci jawaban, dan rubrik penilaian, sehingga tinggal dipindahkan ke Word.

No comments:

Post a Comment