Dalam hidup manusia, orang mengenal istilah atau perbuatan yang disebut “Janji”
Ada berbagai alasan yang mendorong seseorang untuk membuat atau
mengucapkan janji, misalnya : karena rasa cinta atau belas kasih, karena
rasa tanggung jawab, karena ingin memperbaiki situasi yang
memprihatinkan menjadi situasi yang baik, karena mewujudkan suatu
cita-cita, karena ingin membahagiakan orang lain dsb.
Bentuk sebuah janji bermacam-macam. Ada janji yang dibuat oleh diri
sendiri, ada janji yang dibuat karena kemauan kedua belah pihak
(kesepakatan), ada janji yang diucapkan secara lisan, ada pula janji
yang dibuat secara tertulis.
Orang yang membuat/ mengucapkan sebuah janji diharapkan dapat setia
untuk melaksanakan janjinya itu. Untuk mewujudkan sebuah janji memang
dibutuhkan suatu perjuangan bahkan pengorbanan. Janji yang terwujud akan
memnbahagiakan diri orang yang berjanji maupun orang lain.
Baca Kitab Kejadian 3 : 8-15
Tuhan sangat prihatin dengan situasi kedosaan manusia. Karena
kasih-Nya kepada manusia, maka Tuhan menjanjikan suatu keselamatan bagi
manusia (Kej 3 : 8-15). Janji ini mengandung arti bahwa suatu kelak,
hal-hal yang menyangkut kejahatan dan dosa akan dimusnahkan, diganti
dengan keselamatan bagi seluruh umat manusia.
Janji tersebut diungkapkan kembali oleh Nabi Yesaya dalam Yes 7 :
10-14, “sesungguhnya, seorang perempuan muda mengandung dan akan
melahirkan seorang anak laki-laki dan ia akan menamakan Dia Immanuel (ay
14)
Allah memenuhi janji-Nya. Allah tak ingin manusia hancur dalam kuasa
dosa. Janji Allah terwujud dalam pribadi Yesus Kristus sang Putra Allah
sendiri, yang selama hidup-Nya selalu mewartakan keselamatan bagi semua
orang (Ibrani 1 :1-4)
Sebagai pihak yang telah diselamatkan, Allah menghendaki agar
manusia memiliki hidup dan semangat baru. Yaitu hidup yang sesuai dengan
kehendak Allah, meninggalkan perbuatan-perbuatan dosa dan selalu
mengarahkan diri pada keselamatan.