Selamat Datang

Selamat Datang di Blog ini bersama R. Slamet Widiantono ------**------ TUHAN MEMBERKATI -----* KASIH ITU MEMBERIKAN DIRI BAGI SESAMA -----* JANGAN LUPA BAHAGIA -----* TERUS BERPIKIR POSITIF -----* SALAM DOA -----* slammy

Sunday, October 13, 2019

JADI KATOLIK = setia pada TUHAN, KRISTUS, GEREJA dan Diri SEndiri

Rasul Yohanes mengajarkan bahwa 
kesetiaan kepada Tuhan diukur dari kesetiaan 
kepada keseluruhan pengajaran yang dikenali sebagai wahyu ilahi sejak awal mula 
(lih. 1 Yoh 2:24). 
 
Jika Allah menghendaki 
agar kita menerima ajaran-Nya 
dengan menerima ajaran para nabi yang mencapai puncaknya 
pada penggenapannya dalam diri Kristus, 
kita menerima kehendak Allah ini, 
dengan menerima Kristus sepenuhnya. 
 
Sebab Kristus sepenuhnya menyatakan 
Allah dan kasih-Nya kepada kita 
(Kol 1:19; 2:9), 
sehingga Rasul Paulus mengatakan 
bahwa Kristus adalah segalanya 
(lih. Kol 3:11). 
 
Maka penerimaan Kristus sepenuhnya ini 
termasuk dengan menerima segala ajaran-Nya 
dan menjadi anggota Gereja yang didirikan-Nya. 
Jika Kristus menjamin kuasa mengajar Gereja 
yang dilaksanakan oleh para rasul, secara khusus, 
oleh Rasul Petrus dan para penerus mereka, 
maka demi ketaatan kita kepada Kristus, 
kita mentaati juga ajaran Gereja-Nya tersebut. 
 
Sebab kita mengingat 
perkataan Kristus sendiri kepada para murid-Nya, 
“Barangsiapa mendengarkan kamu, 
ia mendengarkan Aku; 
dan barangsiapa menolak kamu, 
ia menolak Aku; 
dan barangsiapa menolak Aku, 
ia menolak Dia yang mengutus Aku.” 
(Luk 10:16).

Dengan ketaatan yang menerima keseluruhan Kristus 
dan ajaran-Nya ini, 
maka seorang Katolik memberikan 
kata “Ya” tanpa syarat dalam iman kepada Allah. 
 
Pemberian persetujuan iman tanpa syarat ini, 
menjadi tanggapan yang mendamaikan bagi hati kita 
sebagai manusia yang senantiasa resah/ gelisah, 
sampai kita beristirahat di dalam Tuhan.[5] 
 
Sebab dengan menyerahkan pemahaman kita 
kepada Kristus melalui Gereja-Nya, 
kita tidak lagi perlu gelisah menginterpretasikan 
banyak hal menurut pemahaman sendiri, 
yang dapat berbeda-beda antara satu orang dengan yang lain, 
bahkan bertentangan, terhadap suatu topik pengajaran yang sama. 
 
Dengan menerima sepenuhnya pengajaran Gereja, 
kita memperoleh kepenuhan makna ajaran Kristus, 
dan ini menghasilkan ketenangan bagi jiwa. 
 
Menarik jika kita menyimak tayangan Journey Home 
di situs EWTN (Eternal Word Television Network) 
yang mengisahkan tentang pencarian akan kepenuhan kebenaran yang membawa kepada Gereja Katolik,  
 
Di sana ada lebih dari 700 kisah kesaksian 
dari mereka yang non-Katolik, 
bahkan banyak di antaranya pendeta, 
yang akhirnya menjadi Katolik 
karena setia mencari 
apa yang dirindukan oleh hati nurani mereka sendiri, 
yang membawa mereka menemukan ‘rumah’ mereka 
yang sesungguhnya di Gereja Katolik.

JADI KATOLIK = yang LAHIR dari HATI KUDUS YESUS

Namun bagi saya sendiri, pengalaman yang tak terlupakan dan begitu mengena di hati saya, adalah ketika saya mendengar dan merenungkan kutipan pengajaran dari St. Yohanes Krisostomus tentang Gereja. 
 
Ia mengajarkan demikian:
“Mengalir dari rusuk-Nya, air dan darah”. Saudara saudari terkasih, jangan lewatkan misteri ini tanpa permenungan; ini mempunyai makna lainnya yang tersembunyi, yang akan kujelaskan kepadamu. Telah kukatakan bahwa air dan darah menandakan Pembaptisan dan Ekaristi kudus. 

Dari kedua sakramen ini, Gereja dilahirkan: dari Pembaptisan, [yaitu] “air pembasuh yang memberikan kelahiran kembali dan pembaharuan melalui Roh Kudus”, dan dari Ekaristi kudus. Karena simbol Pembaptisan dan Ekaristi mengalir dari rusuk-Nya, maka dari rusuk-Nyalah Kristus membentuk Gereja, seperti Ia telah membentuk Hawa dari rusuk Adam. 

Nabi Musa telah memberikan secercah tanda tentang hal ini, 
ketika ia menceritakan kisah 
tentang manusia pertama dan membuat Adam 
mengatakan: 
“Tulang dari tulangku dan daging dari dagingku!” 

Sebagaimana Tuhan mengambil 
sebuah tulang rusuk dari rusuk Adam 
untuk membentuk seorang perempuan, 
demikianlah Kristus telah memberikan kepada kita 
darah dan air dari rusuk-Nya untuk membentuk Gereja. 

Tuhan mengambil tulang rusuk tersebut ketika Adam sedang tertidur lelap, dan dengan cara yang sama Kristus memberikan darah dan air setelah kematian-Nya sendiri.

Maka, tidakkah kamu mengerti, 
betapa Kristus telah mempersatukan Mempelai-Nya 
dengan diri-Nya sendiri, 
dan santapan apakah yang Ia berikan 
kepada kita semua untuk kita makan? 

Dengan santapan yang satu dan sama, 
kita dilahirkan dan diberi makan. 
Seperti seorang wanita memberi makan anaknya 
dengan air susu dan darahnya sendiri, 
demikianlah Kristus terus menerus 
memberi Darah-Nya sendiri kepada mereka 
yang kepadanya Ia telah menyerahkan hidup-Nya

Sudah lama saya mendengar bahwa 
Gereja adalah Mempelai Kristus, 
tetapi saya tidak menyadari sedemikian eratnya 
hubungan Kristus dengan Gereja-Nya, 
sampai saya membaca tulisan St. Yohanes Krisostomus ini. 

Kristus adalah Adam yang baru, 
dan Gereja adalah Hawa yang baru, 
yang dibentuk dari rusuk/lambung Kristus, 
yang dihubungkan juga dengan hati kudus-Nya—
sebab maksud prajurit itu menikam 
adalah menikam jantung hati Kristus, 
untuk memastikan kematian-Nya. 

Hubungan Kristus dan Gereja sebagai Adam dan Hawa yang baru, merupakan penggenapan sempurna kisah Adam dan Hawa yang telah dikisahkan dalam Perjanjian Lama.

St. Yohanes Krisostomus 
bukan Bapa Gereja pertama yang mengajarkan 
bahwa Gereja lahir dari tubuh Kristus, 
sebagaimana Hawa dari tubuh Adam. 

St. Irenaeus (abad ke-2) 
mengajarkan 
bahwa Gereja bagaikan aliran mata air 
yang mengalir dari tubuh Kristus, 
dan dari air ini kita memperoleh santapan kehidupan.

St. Ambrosius juga 
mengajarkan demikian, 
sebagaimana dikutip dalam Katekismus:

KGK 766        
Tetapi Gereja muncul terutama 
karena penyerahan diri Kristus 
secara menyeluruh untuk keselamatan kita, 
yang didahului dalam penciptaan Ekaristi 
dan direalisasikan pada kayu salib. 

“Permulaan dan pertumbuhan itulah 
yang ditandakan dengan darah dan air, 
yang mengalir dari lambung Yesus yang terluka di kayu salib.”

“Sebab dari lambung Kristus yang berada di salib, 
muncullah Sakramen seluruh Gereja yang mengagumkan.”

Seperti Hawa dibentuk dari rusuk Adam yang sedang tidur, 
demikian Gereja dilahirkan dari 
hati tertembus Kristus yang mati di salib.

Pengajaran para Bapa Gereja ini 
membuka mata rohani saya, 
bahwa sejak awal mula, 
Allah telah merencanakan kesempurnaan ciptaan-Nya, 
dengan mempersatukan semua umat manusia ciptaan-Nya 
di dalam Kristus dan Gereja. 

Tiba-tiba pengajaran di Katekismus menjadi ‘make sense‘ buat saya, setelah merenungkan penggenapan kisah Adam dan Hawa di dalam diri Kristus dan Gereja sebagai Adam dan Hawa yang baru. 

Sebagaimana manusia pertama—Adam dan Hawa—menjadi puncak karya penciptaan Allah, 
demikianlah Kristus dan Gereja 
menjadi puncak karya keselamatan Allah. 

Persatuan manusia dengan Kristus tercapai secara sempurna 
dalam diri Bunda Maria, 
maka tak mengherankan, jika dalam tulisan yang lain para Bapa Gereja menyebut Bunda Maria juga sebagai Hawa yang baru. Sebab Bunda Maria adalah anggota pertama dan utama dari perkumpulan umat manusia di dalam Kristus, yang kemudian disebut Gereja.

KGK 760        
“Dunia diciptakan demi Gereja”, demikian ungkapan orang-orang Kristen angkatan pertama. 
Allah menciptakan dunia 
supaya mengambil bagian dalam kehidupan ilahi-Nya. 

Keikut-sertaan ini terjadi 
karena manusia-manusia dikumpulkan dalam Kristus, 
dan “kumpulan” ini adalah Gereja. 

Gereja adalah tujuan segala sesuatu. 
Malahan peristiwa-peristiwa yang menyakitkan hati, 
seperti jatuhnya para malaikat dan dosa manusia, 
hanya dibiarkan oleh Allah sebagai sebab dan sarana, 
untuk mengembangkan seluruh kekuatan tangan-Nya 
dan menganugerahkan kepada dunia cinta-Nya yang limpah ruah:

“Sebagaimana kehendak Allah 
adalah satu karya dan bernama dunia, 
demikian rencana-Nya adalah keselamatan manusia, 
dan ini namanya Gereja.”

Gereja yang dimaksud di sini 
adalah satu-satunya Gereja 
yang didirikan Kristus di atas Rasul Petrus 
(lih. Mat 16:18), 
dan bahwa Kristus menjamin akan menyertainya 
sampai akhir zaman 
(Mat 28:19-20). 

Sebagaimana hanya ada satu Hawa 
yang dibentuk dari Adam, 
demikian pula hanya ada satu Gereja 
yang dibentuk dari Kristus. 

Maka Gereja tak pernah terpisah dari Kristus. 
Gereja bukan sesuatu yang dibentuk sendiri 
oleh beberapa orang beriman, 
dan kemudian diklaim sebagai Gereja Kristus. 

Gereja adalah suatu ‘pemberian’ dari Kristus 
dan dibentuk sendiri oleh Kristus, 
yang ditandai oleh darah dan air 
yang mengalir keluar dari lambung-Nya yang terluka di kayu salib. 

Maka rencana Allah untuk mempersatukan 
seluruh dunia di dalam Kristus sudah ada sejak awal mula, 
namun rencana ini baru mulai terwujud pada saat 
Gereja dibentuk dari air dan darah 
yang keluar dari lambung Yesus yang tertikam di salib. 

Gereja ini kemudian ditampilkan kepada dunia 
pada hari Pentakosta, dengan datangnya Roh Kudus.

Satu-satunya Gereja yang didirikan oleh Kristus 
di atas Rasul Petrus, 
yang masih ada sampai sekarang 
di bawah pimpinan penerus Rasul Petrus 
adalah 
Gereja Katolik. 

Jika Kristuslah yang mendirikan Gereja ini, 
dan yang telah menyerahkan nyawa-Nya baginya, 
maka sudah selayaknya saya memutuskan untuk menjadi anggota Gereja-Nya ini.

Maka menjadi Katolik bagi saya 
tidaklah semata suatu kebetulan, 
karena dilahirkan oleh orang tua yang Katolik. 

Saya menjadi Katolik 
karena ingin mentaati Allah sepenuhnya, 
yang telah mewahyukan melalui Kristus, 
segala ajaran-Nya dan undangan-Nya 
untuk bersatu dengan-Nya dan dengan sesama umat manusia, 
di dalam Kristus dan melalui Gereja yang didirikan-Nya, 
yaitu Gereja Katolik.

Tuhan, bantulah aku untuk setia pada imanku ini, sampai akhir hayatku.

ALLAH TRITUNGGAL = memahami

Allah Tritunggal atau Trinitas merupakan doktrin yang sukar dan membingungkan kita. Kadang-kdang orang Kristen dituduh mengajarkan pemikiran yang tidak masuk akal (logika), yaitu 1+1+1=1. ini merupakan pernyataan yang salah. Mengapa tidak memakai formula 1x1x1=1 atau 1:1:1=1? Istilah Trinitas bukan menjelaskan relasi dari Tiga Allah (ini yang sering dikatakan oleh sekte Unitarian kepada Orang Kristen). 

Tritunggal bukan berarti triteisme, yaitu di mana ada tiga keberadaan yang tiga-tiganya adalah Allah. Kata Trinitas dipergunakan sebagai usaha untuk menjelaskan kepenuhan dari Allah, baik dalam hal keesaan-Nya maupun dalam hal keragaman-Nya.
 
Formulasi Trinitas yang telah dikemukakan dalam sejarah adalah Allah itu satu esensi dan tiga Pribadi. Formula ini memang merupakan suatu hal yang misteri dan paradoks tetapi tidak kontradiksi. Keesaan dari Allah dinyatakan sebagai esensi-Nya atau keberadaan-Nya, sedangkan keragaman-Nya diekspresikan dalam Tiga Pribadi. 

Istilah Trinitas sendiri tidak terdapat dalam Alkitab, namun konsepnya dengan jelas diajarkan oleh Alkitab. Di satu sisi, Alkitab dengan tegas menyatakan keesaan Allah (Ulangan 6:4) dan (ihat juga 1Kor 8:4,6; 1Tim 2:5-6, Yak2:19) 

Di sisi lain, Alkitab dengan tegas menyatakan keilahian tiga pribadi dari Allah: Bapa, Anak dan Roh Kudus. Gereja telah menolak ajaran-ajaran bidat modalisme dan triteisme. 
Modalisme adalah ajaran yang menyangkali perbedaan Pribadi-Pribadi yang ada di dalam keesaan Allah, dan menyatakan bahwa Bapa, Anak dan Roh Kudus hanyalah merupakan tiga cara Allah di dalam mengkspresikan diri-Nya. 
Di pihak lain, Triteisme mengungkapkan pernyataan yang salah, yaitu ada tiga keberadaan yang menjadi Allah.
 
Istilah Pribadi sama sekali tidak berarti adanya perbedaan di dalam esensi, tetapi perbedaan di dalam subtansi dari Allah. Substansi-substansi pada diri Allah memiliki perbedaan yang nyata satu dengan yang lain tetapi tidak berbeda secara esensi, dalam arti suatu keberadaan yang berbeda satu dengan yang lain.setiap Pribadi berada ”di bawah” esensi Allah yang murni. 

Perbedaan substansi ini berada dalam wilayah keberadaan, bukan suatu merupakan suatu keberadaan atau esensi yang terpisah. Semua pribadi pada diri Allah memiliki atribut ilahi.

Setiap Pribadi di dalam Trinitas memiliki peran yang berbeda.  
Karya keselamatan dalam pengertian tertentu merupakan pekerjaan dari ketiga Pribadi Allah Tritunggal. Namun, di dalam pelaksanaannya ada peran yang berbeda yang dikerjakan oleh Bapa, Anak dan Roh Kudus. 

Bapa memprakarsai penciptaan dan penebusan; 
Anak menebus ciptaan; dan 
Roh Kudus melahirbarukan dan menguduskan, 
dalam rangka mengaplikasikan penebusan kepada orang-orang percaya.

Keilahian Bapa:
  • Mat 6:26 bdk Mat 30,32, Yoh.1:18, 6:46, Ro 1:7

Keilahian Yesus Kristus:
  • Pengakuan Tomas: Yoh 20:28.
  • Kesaksian Paulus: Flp 2:5-11.
  • Ibr 1:2,8.
  • malaikat Allah adalah malaikat-Nya: Luk.12:8-9; 15:10, Mat13:41.
  • kerajaan Allah dan orang-orang pilihan Allah adalah milik-Nya: Mat 12:28, 19:14, 24, 21:31,43, Mrk13:20.
  • mengampuni dosa: Mrk 2:8-10.
  • wewenang untuk menghakimi dunia: Mat.25:31.
  • berkuasa atas dunia: Mat 24:30, Mrk 14:62.

Keilahian Roh Kudus:
  • berdusta kepada Roh Kudus = berdusta kepada Allah ( bdk. 1 Kor.6:19-20).
  • Roh Kudus digambarkan sebagai memiliki sifat dan melakukan pekerjaan Allah (Yoh.16:8-11, 3:18).
  • Roh Kudus dinyatakan sederajat dengan Allah(Mat 28:19; 2Kor 13:14, 1Pet 1:2).
Doktrin Tritunggal tidak menunjukkan bagian-bagian atau peran-peran dari Allah. Analogi manusia yang menjelaskan seseorang yang adalah seorang ayah, seorang anak, dan seorang suami tidak dapat mewakili misteri dari natur Allah.
Doktrin Tritunggal tidak secara lengkap menjelaskan tentang karakter Allah yang bersifat misteri. Sebaliknya, doktrin ini memberikan perbatasan yang tidak boleh kita langkahi. Doktrin ini menjelaskan batas pemikiran kita yang terbatas. Doktrin Tritunggal menuntut kita untuk setia pada wahyu ilahi yang menyatakan bahwa dalam satu pengertian Allah adalah esa dan dalam pengertian lain Dia dalah tiga.
  • Doktrin Tritunggal meneguhkan kesatuan Allah di dalam tiga pribadi
  • Doktrin Tritunggal bukan merupakan suatu kontradiksi; Allah memiliki satu esensi dan tiga pribadi.
  • Alkitab meneguhkan baik keesaan Allah dan keilahian dari Bapa, Anak dan Roh Kudus.
  • Ketiga pribadi di dalam Tritunggal dibedakan melalui karya yang dilakukan oleh Bapa, Anak dan Roh Kudus.
  • Doktrin Tritunggal memberikan batasan kepada spekulasi manusia tentang natur Allah.

Saturday, October 12, 2019

DOA ROSARIO = urutan

Rosario sebenarnya adalah doa renungan atas misteri keselamatan (dari saat Yesus mulai dikandung sampai Ia dimuliakan di surga dan mengutus Roh Kudus – seluruhnya 20 peristiwa). Sembari mendaras Salam Maria berulang-ulang (10 kali), para pendoa merenungkan salah satu misteri yang dirangkai dalam rosario.
Doa yang terus diulang-ulang ini sangat membantu memusatkan perhatian pada misteri keselamatan yang direnungkan. Tetapi hendkanya diingat bahwa doa-renungan ini harus dibangun dan dipupuk oleh iman; maka baik kaalu bacaan-bacaan singkat, renungan atau ayat-ayat nyanyian disisipkan di antara setiap dasa Salam Maria. Kalau tidak dilandasi iman, ada bahaya bahwa doa rosario menjadi rentetan kata-kata yang kosong.

Tatacara Berdoa Rosario
Dalam nama Bapa
Aku percaya…
Kemuliaan kepada Bapa… 
Terpujilah…

Bapa kami…

Salam, Putri Allah Bapa. – Salam Maria
Salam, Bunda Allah Putra, - Salam Maria
Salam, Mempelai Allah Roh Kudus. – Salam Maria

Lalu menyusul “Kemuliaan” dan “Terpujilah” seperti diatas.
Kemudian pemimpin membacakan peristiwa-peristiwa dari rangkaian misteri yang dipilih (lihat di bawah). Selanjutnya menyusul Bapa kami, 10 Salam Maria, Kemuliaan, Terpujilan. Lalu menyusul peristiwa kedua dan seterusnya.


Peristiwa-peristiwa Gembira, khususnya selama Masa Adven dan Natal

1. Maria menerima kabar gembira dari Malaikat Gabriel (Luk 1:26-38).
2. Maria mengunjungi Elisabet, saudarinya (Luk 1:39-45).
3. Yesus dilahirkan di Bethlehem (Luk 2:1-7).
4. Yesus dipersembahkan dalam Bait Allah (Luk 2:22-40).
5. Yesus diketemukan dalam Bait Allah (Luk 2:41-52).

Peristiwa-peristiwa Sedih, khususnya selama Masa Prapaskah dan tiap hari Jumat

1. Yesus berdoa kepada Bapa-Nya di surga dalam sakratul maut (Luk 22:39-46).
2. Yesus didera (Yoh 19:1).
3. Yesus dimahkotai duri (Yoh 19:2-3).
4. Yesus memanggul salib-Nya (ke Gunung Kalvari) (Luk 22:26-32).
5. Yesus wafat di salib (Luk 23:44-49).

Peristiwa-peristiwa Mulia, khususnya selama Masa Paskah dan tiap hari Minggu

1. Yesus bangkit dari kematian (Luk 24:1-5).
2. Yesus naik ke surga (Luk 24:50-53).
3. Roh Kudus turun atas para Rasul (Kis 2:1-13).
4. Maria diangkat ke surga (1Ko r15:23; DS 3903).
5. Maria dimahkotai di surga (Why 12:1, DS 3913-3917).

Peristiwa-peristiwa Terang.

1. Yesus di baptis di sungai Yordan (Ma 3:16-17)
2. Yesus menyatakan diri-Nya dalam pesta pernikahan di Kana (Yoh 2:11)
3. Yesus memberitakan Kerajaan Allah dan menyerukan pertobatan (Mat4:17-23)
4. Yesus menampakan kemuliaan-Nya (Mat 17:2-5)
5. Yesus menetapkan Ekaristi (Mrk 14:22-24)

DEVOSI MARIA : Inti Dasar

Kalau diperiksa dengan teliti, maka kita akan menemukan tiga elemen yang membentuk kesatuan inti devosi kepada Maria, yaitu: puja-puji Maria, mencontoh Maria dan memohon bantuan pengantaraan doa Maria.
  • Memuji Maria
Puja-puji merupakan salah satu elemen inti devosi kepada Maria. Kitab Suci sendiri mencatat pujian Elisabet dan anak dalam rahimnya sebagai pujian paling pertama bagi Maria: "Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu. Siapakah aku ini sampai IBU TUHANKU datang mengunjungi aku?...anak di dalam rahimku melonjak kegirangan. Dan berbahagialah ia yang telah percaya" (Luk 1:42-45). Dalam devosi marial, umat beriman, sama seperti dilakukan Eliabeth dan anak dalam rahimnya, mengagumi dan menghormati Maria karena perannya menjadi ibu Tuhan, Bunda Mesias. Bunda Maria dipuji karena karya agung Allah dalam diriNya. Maria tidak dihormati seakan dia berprestasi atas usaha-usahanya sendiri, melainkan karena di dalam dia Allah berkarya secara luar biasa St. Chrisostomus memberikan contoh tentang bagaimana dan apa alasan Maria dipuji: "Sungguh pantas dan wajarlah kami memuji dikau, o Bunda Allah yang amat kudus, suci murni dan bunda Tuhan kami. Kami menghormati engkau yang seharusnya dipuji melebihi Kerubim dan Seraphim. Engkau yang tanpa kehilangan keperawananmu melahirman Sabda Tuhan. Engkaulah sungguh-sungguh Bunda Allah.
  • Mencontoh Maria
Dalam devosi marial, kita tidak hanya cukup sampai pada sikap heran, kagum dan puji Maria karena karya Agung Allah dalam dirinya, tapi kita, umat beriman juga harus mencontohi Maria sebagai citra dalam hal iman, cintakasih persatuan yang sempurna dengan Kristus. Gereja mengajarkan bahwa Maria adalah typos Gereja (gambaran Gereja), gambaran umat beriman dalam perjalanan menuju Allah. Itu berarti dalam usaha menjawab panggilan Allah, kita bisa belajar pada Maria tentang bagaimana menjawab panggilan Allah dan hidup seturut firmanNya, tentang bagaimana mengikuti Yesus secara sempurna, dan bagiamana melaksanakan kehendak Allah dengan setia.
  • Memohon pengantaraan doa Maria:
Di samping memuji dan mencontohi berbagai keutamaan Maria, umat beriman dapat berdoa kepada Maria. Akan tetapi diusahakan sekian sehingga doa-doa itu tidak bercorak seakan-akan Maria dapat menganugerahi sesuatu tanpa diketahui Allah sendiri. Doa kepada Maria lebih berarti  DENGAN ALLAH. Tentang ini St. Thomas Aquninas menjelaskan, doa dalam artinya sebenarnya memang hanya ditujukan kepada Allah karena hanya Allah yang patut disembah. Selain itu doa kita dimaksudkan untuk memperoleh rahmat yang hanya bisa diberikan oleh Allah seorang diri. Tapi kalau doa-doa kita ditujukan kepada para malaikat dan orang kudus, maka hal itu terjadi karena mereka sudah dipersatukan secara erat dengan Allah dan doa-doa kita akan menjadi lebih efektif melalui doa-doa dan jasa kepengantaraan mereka. Jadi para kudus sendiri tidak mengabulkan doa kita, tapi mereka dapat mendoakan kita pada Allah, atau menyampaikan doa-doa kita kepada Allah.

DOA ROSARIO : Sejarah

  1. Definisi:
Doa Rosario: doa kepada atau melalaui Maria dengan mendaraskan 150 kali Salam Maria sambil merenungkan peristiwa-peristiwa inti hidup Yesus dan Maria sambil menghitung biji rosario (to keep truck).
  1. Rosario dalam sejumlah agama:
Kebiasaan berdoa dengan menggunakan hitungan biji-bijian sudah sangat tua usianya.
    • Orang peru kuno sudah memakai hitungan manil-manik dalam doa mereka.
    • Di Ninive (abad IX BC) ditemukan angka pahatan yang memperlihatkan sebuah untaian manik-manik.
    • Orang Islam, Hindu, Bunda di Cina, India dan Jepang sudah lama mengenal kebiasaan berdoa sambil memakai hitungan biji-bijian.
    • Umat Islam khususnya mengenal doa yang disebut "doa tasbih", yaitu doa yang terdiri atas sebuah untaian 99 butir untuk menyebut nama Allah yang Mahaesa.
    • Tasbih yang sama sudah ada pada umat Kristen Timur (Yunani) sejak lama yang mengulang-ulang doa pendek tertentu dengan menyebut nama Allah dan Yesus Kristus.
    • Rangkaian doa tasbih ditemukan dalam kubur Santa Getrudis dari Nivella pada abad yang ke IV.
    • Para pertapa di padang gurung dulu juga biasa memakai hitungan biji tasbih dalam doa mereka. Para pertapa itu mempunyai sebuah bakul yang berisikan kelereng yang berfungsi untuk menghubungkan doa-doa mereka yang mereka ucapkan setiap hari.
Itu berarti, pemakaian hitungan biji tasbih dalam doa-doa sudah sangat tua usia nya dan merupakan suatu gejala umum pada setiap agama, dan umumnya bertujuan untuk MENGHITUNG DOA-DOA TERTENTU SEHINGGA MUDAH DIDARASKAN BERSAMA DAN UNTUK MENCIPTAKAN KONSENTRASI WAKTU BERDOA.
  1. Doa Rosario pada Abad Pertengahan:
"Rosario" berasal dari kata bahasa Latin "rosa", artinya "bunga mawar". Sedangkan "rosario" artinya "rangkaian atau untaian karangan bunga mawar". Di Eropa dulu (dan sampai sekarang), bunga mempunyai arti yang sangat penting. Bunga bisa diberikan kepada seseorang sebagai tanda cinta, sayang atau hormat.Pada abad pertengahan khususnya, seorang hamba mempunyai kebiasaan merangkaikan karangan bunga mawar untuk kemudian dipersembahkan kepada tuannya. Diperkirakan bahwa umat Kristen pada zaman ini secara imitatif mengambil alih kebiasaan ini. Dalam devosi kepada Maria, umat Kristen menyadari diri sebagai hamba-hamba Maria. Lalu sebagai pelayaan Maria, mereka merangkaikan bunga mawar (wreaths and crowns of roses) untuk dipersembahkan kpd Maria. Demikianlah devosi marial pada abad pertengahan berpusat pada simbol bunga mawar. Caranya: Umat Kristen merangkaikan bunga mawar itu semacam mahkota, lalu meletakannya di rumah ibadat di depan gambar atau patung St. Maria. Dalam proses merangkaikan bunga mawar itu, mereka mengucapkan litani pujian kepada Maria. Dengan itu tidak terlalu sulit untuk memahami bahwa biji tasbih atau mani-manik yang sekarang lebih dikenal dengan nama BIJI ROSARIO merupakan perkembangan untaian mahkota bunga mawar itu.
  1. Hubungan Doa Rosario dan 150 Mazmur Daud:
Pada mulanya doa Gereja perdana berpusat sekitar 150 mazmur Daud. Pada jaman Renainsance pada umumnya umat beriman, yang dapat membaca, memiliki buku doa mazmur. Pada rahib biasanya membagi 150 mazmur itu atas tiga bagian berdasarkan atas tiga pembagian waktu doa yaitu pagi, siang dan malam., sehingga menjadi 3 kali 50 mazmur. Sedangkan umat beriman, yang tidak dapat membaca, dapat mendaraskan 150 kali Doa Bapa Kami dan Salam Maria sebagai ganti 150 mazmur Daud ( 3 kali 50) dalam waktu sehari. Dan untuk menjamin konsetrasi dalam berdoa, mereka memakai bantuan hitungan tasbih. Dengan demikan, pada mulanya doa rosario menjadi doa pengganti doa mazmur bagi saudara-saudara yang tidak dapat membaca. Sebab itu, waktu kerap kali doa Rosario disebut "Kitab mazmur Maria" (the Psalter of Our Lady). Doa Rosario dalam paralelitasnya dengan doa Mazmur dapat dirincikan sebagai berikut:
  • "Bapa Kami" sebagai pengganti Antiphon mazmur,
  • Sepuluh kali doa "Salam Maria" berperan sebagai pengganti pendarasan Mazmur,
  • dan "kemuliaan kepada Bapa..." berperan sebagai doa tanggapa
  1. Bulan Oktober sabagai Bulan Rosario:
Semangat dan minat umat Kristen Katolik terhadap doa rosario mendorong sejumlah Paus untuk menetapakan bulan Oktober sebagai bulan Rosario. Paus Leo XIII secara resmi yang secara resmi menetapkan bulan Oktober sebagai bulan rosario, menulis: "Kepada Bunda Surgawi ini kita telah persembahkan kembang-kembang mawar pada bulan Mei, maka kepadanya kita juga hendak mempersembahkan paneh buah-buahan yang berlimpah bulan Oktober dengan hati yang penuh ikhlas." Pada tahun 1883, dalam Eksikliknya "Supremasi Apostolatus" Paus Leo XIII menetapkan bulan Oktober sebagai bulan Rosario bagai semua Gereja Kristen Katolik. Pada tahun 1885 malah Paus ini mengatakan bahwa umat dapat memperoleh indulgensi dengan berdoa Rosario pada bulan Oktober. Dalam sebuah suratnya, Paus Leo XIII lagi-lagi mengijinkan para petani, yang pada umumnya sangat sibuk mengumpulkan panenan pada bulan Oktober, untuk menunda berdoa Rosario pada bulan November atau Desember.
  1. doa rosario dan Tarekat Dominikan: Ada yang berpendapat bahwa Doa Rosario ditemukan (diciptakan) oleh Tarekat Dominikan di bawah pimpinan Alanus De Rupe. Pendapat ini tidak benar seluruhnya. Tapi yang jelas bahwa dalam sejarah Gereja, Tarekat Dominikan dikenal berjasa dalam menyebarluaskan dan mempopulerkan Doa rosario di sebagian besar wilayah Eropa pada Abad Pertengahan. Pada tahun 1470 Alanus de Rupe (Dominikan) mendirikan sebuah Tarekat Religius bernama "Serikat Mazmur Yesus dan Maria" (Conferternity of the Psalter of Jesus and Mary". Di dalam dan melalui tarekat ini Alanus de Rupe menunjukan semangat dan kecintaannya yang sangat besar kepada Bunda Maria.Pada abad yang sama di Eropa, terutama di Perancis dan Italia, munculah sebuah kelompok heretis yang disebut Kaum Albigensis. Malalui kothbah yang berapi-api dan semangat doa yang tinggi, termasuk secara khusus doa-doa kepada Bunda Maria, Alanus de Rupe dan kaum biarawan Dominikan lainnya berhasil mentobatkan kaum Albigensis dan membawa mereka kembali kepada ajaran Gereja yang benar.

DOSA BERAT

Dosa-dosa harus dinilai menurut beratnya. 
Pembedaan antara dosa berat dan dosa ringan yang sudah dapat ditemukan dalam Kitab Suci 
Bdk. I Yoh 6:16-17. diterima oleh tradisi Gereja. 
Pengalaman manusia menegaskannya. 
(KGK 1854)

Dosa berat merusakkan kasih di dalam hati manusia oleh satu pelanggaran berat melawan hukum Allah. 
Di dalamnya manusia memalingkan diri dari Allah, 
tujuan akhir dan kebahagiaannya dan menggantikannya dengan sesuatu yang lebih rendah. 
Dosa ringan membiarkan kasih tetap ada, 
walaupun ia telah melanggarnya dan melukainya. 
(KGK 1855)

Karena dosa berat merusakkan prinsip hidup di dalam kita, yaitu kasih, maka ia membutuhkan satu usaha baru dari kerahiman Allah dan suatu pertobatan hati yang secara normal diperoleh dalam Sakramen Pengakuan:

"Kalau kehendak memutuskan untuk melakukan sesuatu yang dalam dirinya bertentangan dengan kasih, yang mengarahkan manusia kepada tujuan akhir, maka dosa ini adalah dosa berat menurut obyeknya.... entah ia melanggar kasih kepada Allah seperti penghujahan Allah, sumpah palsu, dan sebagainya atau melawan kasih terhadap sesama seperti pembunuhan, perzinaan, dan sebagainya... Sedangkan, kalau kehendak pendosa memutuskan untuk membuat sesuatu yang dalam dirinya mencakup satu kekacauan tertentu, tetapi tidak bertentangan dengan kasih Allah dan sesama, seperti umpamanya satu perkataan yang tidak ada gunanya, tertawa terlalu banyak, dan sebagainya, maka itu adalah dosa ringan" 
(Tomas Aqu.,s.th. 1-2,88,2). 
(KGK 1856)

Supaya satu perbuatan merupakan dosa berat harus dipenuhi secara serentak tiga persyaratan: 
"Dosa berat ialah dosa yang mempunyai materi berat sebagai obyek dan yang dilakukan dengan penuh kesadaran dan dengan persetujuan yang telah dipertimbangkan" (RP#17). 
(KGK 1857)

Apa yang merupakan materi berat itu, dijelaskan oleh sepuluh perintah sesuai dengan jawaban Yesus kepada pemuda kaya: 
"Engkau jangan membunuh, jangan berzinah jangan mencuri, jangan bersaksi dusta... hormatilah ayahmu dan ibumu" 
(Mrk 10:19). 

Dosa-dosa dapat lebih berat atau kurang berat: 
pembunuhan lebih berat daripada pencurian. 

Juga sifat pribadi orang yang dilecehkan, 
harus diperhatikan: 
tindakan keras terhadap orang-tua bobotnya lebih berat daripada terhadap seorang asing.
(KGK 1858)

Dosa berat 
menuntut pengertian penuh dan persetujuan penuh. 

Ia mengandaikan pengetahuan mengenai kedosaan dari suatu perbuatan, mengenai kenyataan bahwa ia bertentangan dengan hukum Allah. 

Dosa berat juga mencakup 
persetujuan yang dipertimbangkan secukupnya, 
supaya menjadi keputusan kehendak secara pribadi. 
Ketidaktahuan yang disebabkan oleh kesalahan dan ketegaran hati 
Bdk. Mrk 3:5-6; Luk 16:19-31. 
tidak mengurangi kesukarelaan dosa, 
tetapi meningkatkannya. 
(KGK 1859)

Ketidaktahuan yang bukan karena kesalahan pribadi 
dapat mengurangkan tanggungjawab 
untuk satu kesalahan berat, 
malahan menghapuskannya sama sekali. 

Tetapi tidak dapat diandaikan 
bahwa seseorang tidak mengetahui prinsip-prinsip moral yang ditulis di dalam hati nurani setiap manusia. 
Juga rangsangan naluri, hawa nafsu serta tekanan yang dilakukan dari luar atau gangguan yang tidak sehat dapat mengurangkan kebebasan dan kesengajaan dari satu pelanggaran. 

Dosa karena sikap jahat atau karena keputusan yang telah dipertimbangkan untuk melakukan yang jahat, mempunyai bobot yang paling berat. 
(KGK 1860)

Dosa berat, 
sama seperti kasih, adalah 
satu kemungkinan radikal yang dapat dipilih manusia dalam kebebasan penuh. 
Ia mengakibatkan 
kehilangan kebajikan ilahi, kasih, dan rahmat pengudusan, artinya status rahmat. 

Kalau ia tidak diperbaiki lagi 
melalui penyesalan dan pengampunan ilahi, 
ia mengakibatkan pengucilan dari Kerajaan Kristus dan menyebabkan kematian abadi di dalam neraka 
karena kebebasan kita mempunyai 
kekuasaan untuk menjatuhkan keputusan yang definitif dan tidak dapat ditarik kembali. 

Tetapi meskipun kita dapat menilai bahwa satu perbuatan dari dirinya sendiri merupakan pelanggaran berat, 
namun kita harus menyerahkan penilaian 
mengenai manusia kepada keadilan dan kerahiman Allah. 
(KGK 1861)